Rabu 06 Mar 2024 19:42 WIB

Obesitas Bisa Dicegah Sejak dalam Kandungan, Dokter Ungkap Caranya

Calon ibu hamil harus menjaga asupan nutrisi yang baik.

Obesitas anak (ilustrasi). Obesitas atau kelebihan berat badan dapat dicegah sejak dalam kandungan.
Foto: www.freepik.com
Obesitas anak (ilustrasi). Obesitas atau kelebihan berat badan dapat dicegah sejak dalam kandungan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Obesitas atau kelebihan berat badan dapat dicegah sejak dalam kandungan. Praktisi kesehatan masyarakat sekaligus staf di bidang Teknis Komunikasi Transformasi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, dr Ngabila Salama, mengatakan pencegahan obesitas dapat dilakukan dengan memastikan ibu hamil menerima nutrisi yang baik sebelum dan selama periode kehamilan.

"Calon ibu hamil harus menjaga asupan nutrisi yang baik sesuai Isi Piringku serta mencegah malnutrisi baik kekurangan atau kelebihan gizi termasuk obesitas," kata dr Ngabila di RSUD Taman Sari, Jakarta Barat,  Rabu, menyambut Hari Obesitas Sedunia yang jatuh pada Senin (4/3/2024).

Baca Juga

Adapun konsep Isi Piringku berarti setengah porsi sayur dan buah, setengah porsi karbohidrat, dan lauk tinggi protein hewani, rendah gula, garam, dan lemak. Lebih lanjut, pencegahan dapat dilakukan melalui deteksi dini dengan mengukur indeks massa tubuh (IMT) bayi secara berkala dan mandiri minimal setiap enam bulan.

"Rumusnya itu berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter dikuadratkan atau BB/(TBxTB)," ungkap Ngabila.

Untuk kategori Asia dan Indonesia, tergolong obesitas jika IMT>25, gizi berlebih jika IMT 23–24,9, normal jika IMT 18,5–22,9 dan gizi kurang jika IMT<18,5. Lebih lanjut, Ngabila juga menganjurkan masyarakat untuk menerapkan pola hidup CERDIK.

"Pertama cek kesehatan rutin, terus enyahkan asap rokok, rajin olahraga dengan pemanasan per dua jam selama 5-10 menit dengan gerakan sederhana seperti pemanasan senam," kata Ngabila.

Kemudian, lanjut dia, diet seimbang dengan konsep Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan RI perlu diterapkan sehari-hari. "Setengah piring adalah sayur dan buah, makin berwarna warni akan lebih bagus. Setengah piring lainnya adalah karbohidrat seperti nasi, lauk, pauk kaya protein hewani. Bisa juga nabati dan lemak tentunya dengan komposisi seimbang," kata Ngabila.

Ngabila mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak. Jadi satu hari maksimal orang dewasa empat SDM (sendok makan) gula, satu SDT (sendok teh) garam, lima SDM lemak.

"Sudah termasuk makan besar, makan ringan, minyak untuk menggoreng dan menumis dan lain-lain. Sayur dan buah dimakan lima porsi per hari, tiga porsi saat makan besar dan dua porsi makanan ringan di antara makan besar," kata Ngabila.

Untuk anak utamanya balita, kata Ngabila, sangat penting untuk mencegah stunting yang utama dengan mencukupkan konsumsi protein hewani. "Protein hewani dapat dijumpai pada telur, ikan, hati, ayam, daging, hidangan laut (seafood) dan lain-lain," tuturnya.

"Kemudian istirahat cukup minimal tujuh jam (setiap 24 jam), jika begadang maka tidur di siang hari," katanya. Selanjutnya kelola stres dengan berbagi tugas dengan kerja tim yang baik dan saling toleransi empati.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement