REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernahkah bertanya-tanya, dari mana asal air yang digunakan untuk mencuci bahan baku makanan kesukaan Anda? Atau bagaimana kondisi tanah tempat sayur dan buah organik ditanam sebelum akhirnya tersaji di atas meja makan?
Bagi sebagian besar masyarakat modern yang menganut gaya hidup sehat, perhatian biasanya hanya berhenti pada label nutrisi, jumlah kalori, atau klaim bebas pengawet. Padahal, ada satu faktor penentu yang jauh lebih fundamental namun sering terabaikan yaitu kualitas lingkungan dari hulu ke hilir.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan bahwa tren gaya hidup sehat dan kesadaran kuliner tidak akan ada artinya jika kita abai terhadap kelestarian alam. Isu krusial ini mengemuka dalam ajang tahunan REI’s Key Client Network 2025–2026 yang diinisiasi oleh PT REI Sistem Indonesia Group di Jakarta, di mana standar keamanan pangan dan keberlanjutan lingkungan dibedah secara mendalam bersama para pemangku kepentingan industri.
Sebagai garda terdepan pengawasan obat dan makanan di tanah air, BPOM melihat bahwa tantangan industri pangan saat ini sudah bergeser ke ranah ekologis. Direktur Pengawasan Produksi Pangan Olahan BPOM, Sondang Widya Estikasari, menyoroti bahwa kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga akademisi, merupakan kunci mutlak dalam membangun ekosistem pangan yang aman, bermutu, dan bergizi tinggi.
Sondang meyoroti hubungan erat antara kesehatan lingkungan dan keamanan pangan yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari. "Keamanan pangan sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Jika lingkungan hulu tidak terjaga seperti kualitas air dan bahan baku dari alam, maka produk akhirnya juga berisiko tidak aman. Dengan mendorong industri memperhatikan prinsip lingkungan dan keberlanjutan, kita sebenarnya sedang menjaga keamanan pangan sejak dari pasokan bahan baku hingga diproses sesuai Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB)," kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Kamis (30/7/2026).
Pernyataan ini menyadarkan kita bahwa makanan yang kita konsumsi adalah cerminan dari bumi tempat ia tumbuh. Jika alam tercemar, mustahil produk pangan olahan yang dihasilkan bisa benar-benar aman bagi tubuh. Oleh karena itu, penerapan standar CPPOB saja dinilai tidak cukup jika industri tidak dibarengi dengan kepedulian nyata terhadap pelestarian lingkungan hidup.