REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Strok kini semakin sering terjadi pada orang dewasa muda. Sebuah studi dengan populasi berkala besar di Amerika Serikat yang mencakup hampir tiga dekade menemukan bahwa angka kejadian strok pada orang dewasa berusia 20 hingga 54 tahun hampir berlipat ganda.
"Meski strok secara tradisional dianggap sebagai penyakit yang menyerang orang lanjut usia, temuan kami menunjukkan bahwa strok semakin sering terjadi pada orang dewasa yang lebih muda," kata penulis studi dr Emily Fisher dari University of Cincinnati dilansir laman US News, Selasa (29/9/2026).
Menurut Fisher, peningkatan kasus strok tersebut terjadi bersamaan dengan semakin banyaknya pasien yang bertahan hidup setelah mengalami strok. "Ini berarti lebih banyak orang dewasa muda mungkin harus hidup dengan dampak jangka panjang akibat strok," kata dia.
Untuk studi ini, para peneliti meninjau data medis dari wilayah Greater Cincinnati dan Kentucky Utara mulai tahun 1993 hingga 2020, serta mengidentifikasi lebih dari 2 ribu kasus strok pertama pada orang dewasa muda. Angka kejadian strok secara keseluruhan meningkat dari sekitar 34 kasus per 100 ribu tahun-orang (person-years) pada awal periode studi, menjadi lebih dari 62 kasus pada 2020. Person-years merupakan ukuran yang memperhitungkan jumlah orang yang diamati dalam penelitian dan lamanya mereka berada dalam pengamatan.
Para peneliti menemukan peningkatan angka strok terutama didorong oleh strok iskemik. Jenis strok ini terjadi ketika aliran darah menuju sebagian otak terhambat atau tersumbat.
Selain peningkatan kasus strok, penelitian juga menemukan perubahan pada sejumlah faktor kesehatan yang ditemukan pada orang dewasa muda yang mengalami strok. Tekanan darah tinggi, diabetes, fibrilasi atrium, dan penggunaan zat terlarang semakin umum ditemukan pada orang dewasa muda yang mengalami strok.
Sebagai contoh, penggunaan zat terlarang meningkat kurang dari 5 persen pada 1993-1994, menjadi sekitar 40 persen pada 2020. Sebagian besar peningkatan tersebut disebabkan oleh penggunaan ganja. Namun, para peneliti menekankan bahwa penelitian ini tidak dapat menentukan apakah perubahan faktor-faktor tersebut secara langsung menjadi penyebab di balik peningkatan angka kejadian strok.