JAKARTA -- Pakar kesehatan masyarakat sekaligus dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Sri Mulyani, menyebut risiko demensia dapat ditekan hingga 40 persen melalui pencegahan faktor risiko yang dilakukan sejak dini. Meliputi penerapan pola hidup sehat, pengendalian penyakit kardiovaskular, serta edukasi kesehatan sejak masa kanak-kanak.
Upaya ini dinilai penting mengingat jumlah penderita demensia di Indonesia terus meningkat. Organisasi Alzheimer Indonesia mencatat sekitar 1,2 juta orang hidup dengan demensia pada 2016. Jumlah tersebut diproyeksikan mencapai 4 juta orang pada 2050.
"Jadi, ternyata kasus demensia itu berdasarkan penelitian bisa dicegah hingga 40 persen jika sejak awal, early life, sudah melakukan pencegahan-pencegahan," kata Dr Sri dalam keterangan tertulis, dikutip pada Sabtu (24/10/2026).
la menjelaskan hipertensi dan diabetes merupakan sejumlah faktor yang perlu dikendalikan untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular yang dapat berkontribusi terhadap demensia. Kebiasaan konsumsi sejak masa kanak-kanak juga perlu jadi perhatian. Utamanya konsumsi makanan cepat saji serta makanan dan minuman tinggi gula dan kalori yang dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular pada masa mendatang.
"Karena itu, edukasi kesehatan perlu diberikan sedini mungkin agar masyarakat memahami hubungan antara kebiasaan hidup, kesehatan jantung, dan kesehatan otak. Jadi, apa yang bagus untuk jantung juga bagus untuk perlindungan otak," kata Dr Sri.
Demensia kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Akibatnya, gejala yang muncul tidak jarang diabaikan dan hanya dianggap sebagai pikun biasa. Padahal, perubahan perilaku dapat menjadi salah satu tanda yang perlu diwaspadai, terutama ketika seseorang mulai menunjukkan kebiasaan atau respons yang berbeda dari biasanya.
Untuk itu, menurut Sri, keluarga memiliki peranan penting dalam deteksi dini. Karena keluarga menjadi pihak terdekat yang paling mungkin menyadari perubahan perilaku seseorang.
"Biasanya orang terdekatlah yang pertama kali notice. Tahu ini kok jadi aneh, kok perilakunya begini. Yang paling mengganggu biasanya adalah perubahan perilakunya, bukan hanya lupa-lupanya," ujar Sri.
Deteksi dini juga dapat membantu keluarga dan tenaga kesehatan menyusun rencana perawatan sesuai kebutuhan orang dengan demensia (ODD). Diagnosis sejak awal memberi kesempatan bagi keluarga untuk mempersiapkan kebutuhan perawatan jangka panjang.
"Jadi, tantangan terbesarnya adalah awareness dulu. Semua orang perlu tahu demensia itu apa, gejalanya seperti apa, agar bisa membedakan yang penuaan normal itu seperti apa, yang mengarah ke demensia itu yang seperti apa," kata dia.