Rabu 30 Sep 2026 15:56 WIB

LSF Dorong Pelajar Lebih Bijak Memilih Tontonan Sesuai Usia

LSF dorong iklim perfilman yang kondusif bagi anak

Lembaga Sensor Film (LSF) melalui program LSF Goes to School di SMP Al Fajar Bekasi, Senin (28/9/2026).
Foto: Lembaga Sensor Film (LSF)
Lembaga Sensor Film (LSF) melalui program LSF Goes to School di SMP Al Fajar Bekasi, Senin (28/9/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI — Kemudahan mengakses film dan berbagai tayangan melalui bioskop maupun platform digital membuat kemampuan memilih tontonan sesuai usia semakin penting bagi pelajar. Literasi mengenai klasifikasi usia menjadi salah satu cara mendorong generasi muda menonton secara sadar dan bertanggung jawab.

Hal tersebut menjadi perhatian Lembaga Sensor Film (LSF) melalui program LSF Goes to School di SMP Al Fajar Bekasi, Senin (28/9/2026). Dalam kegiatan yang digelar bersama Imperial Pictures tersebut, para pelajar diajak memahami budaya sensor mandiri sekaligus mengenal proses kreatif di balik produksi film.

Budaya sensor mandiri pada dasarnya dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni mencari informasi mengenai film, memperhatikan klasifikasi usia, kemudian mempertimbangkan kesesuaiannya sebelum menonton. Pendekatan tersebut dinilai penting karena pilihan tontonan kini tidak hanya tersedia di bioskop, tetapi juga semakin mudah diakses melalui media digital.

Kegiatan tersebut menghadirkan pemain film Ghosthing, Yasamin Jasem dan Leony V. H, serta produser Hartawan Triguna. Kehadiran pelaku perfilman menjadi sarana untuk mendekatkan pesan literasi film dengan pengalaman dan ketertarikan pelajar.

Produser eksekutif Ghosthing, Peter Surya Wijaya, mengatakan film dapat menjadi ruang bagi penonton untuk menikmati cerita sekaligus mengenal sudut pandang baru. “Film dapat menjadi ruang untuk menikmati cerita, mengenal sudut pandang baru, dan berdiskusi. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap para pelajar semakin dekat dengan film Indonesia serta terbiasa memilih tontonan yang sesuai dengan usia mereka,” ujar Peter. 

Menurut dia, pertemuan antara insan perfilman dan pelajar juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap film Indonesia. Namun, ketertarikan tersebut perlu berjalan beriringan dengan kesadaran dalam menentukan tontonan.

Dalam kegiatan itu, para pelajar juga diperkenalkan dengan Ghosthing. Film bergenre komedi horor tersebut mengisahkan Alfian, seorang perias jenazah yang mampu melihat arwah, dan Maya, arwah seorang influencer yang berusaha mencari penyebab kematiannya. 

Ghosthing dijadwalkan tayang di bioskop mulai 15 Oktober 2026 dan telah memperoleh klasifikasi 13 tahun ke atas dari LSF. Klasifikasi tersebut menjadi salah satu informasi yang perlu diperhatikan calon penonton sebelum menentukan film yang akan disaksikan. 

Melalui program LSF Goes to School, pesan mengenai budaya sensor mandiri diarahkan agar tidak berhenti pada informasi mengenai klasifikasi film. Pelajar juga didorong membangun kebiasaan untuk mencari informasi dan mempertimbangkan kesesuaian tontonan dengan usia mereka.

Dengan demikian, literasi film tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami isi cerita, tetapi juga membangun kesadaran penonton dalam menentukan tayangan yang dikonsumsi.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi