Sabtu 05 Sep 2026 14:07 WIB

Saatnya Inovasi Bioteknologi Keluar Zona Nyaman dan Menyapa Masyarakat

Kolaborasi kampus dan industri didorong menggunakan pendekatan Pentahelix.

Workshop Kelompok Produk dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Inovasi Tahun 2026 di Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (27/8/2026).
Foto: Dok. Etana
Workshop Kelompok Produk dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Inovasi Tahun 2026 di Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (27/8/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Riset bioteknologi di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan besar untuk keluar dari laboratorium dan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Tantangan utamanya adalah melewati valley of death, yaitu jarak antara keberhasilan riset di laboratorium dan kesiapan teknologi untuk diproduksi secara komersial.

Hal tersebut disampaikan oleh Director of Corporate Relation & Strategic Affairs PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana), Andreas Donny Prakasa, dalam Workshop Kelompok Produk dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Inovasi Tahun 2026 di Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (27/8/2026). Di hadapan akademisi, peneliti, pelaku industri, dan regulator, Donny menjelaskan bahwa proses hilirisasi memerlukan tahapan panjang, mulai dari scale-up, validasi, pemenuhan standar Good Manufacturing Practice (GMP), uji praklinis dan klinis, hingga regulasi dan kesiapan pasar.

Baca Juga

"Industri perlu dilibatkan sejak tahap awal penelitian agar kebutuhan pasar, skala produksi, regulasi, dan keekonomian ikut dipertimbangkan. Di sinilah teaching factory berperan strategis, sebagai tempat hasil riset dipersiapkan naik kelas dari skala laboratorium menuju standar industri," ujar Donny dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Sabtu (5/9/2026).

Penguatan fasilitas laboratorium dan teaching factory perlu diselaraskan dengan pemetaan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT/TRL) serta peta jalan produk inovasi. Salah satu contoh kolaborasi lintas sektor yang dipaparkan dalam acara tersebut adalah pengembangan prototipe vaksin dengue tetravalen berbasis teknologi mRNA. Riset ini melibatkan kerja sama antara UI, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), LPDP, Etana, dan Tsinghua University.

Perwakilan tim peneliti vaksin dengue UI, Prof Dra Beti Ernawati Dewi, menjelaskan bahwa kandidat vaksin ini dirancang berdasarkan keragaman strain dengue lokal dari DENV-1 hingga DENV-4 melalui analisis mutasi in silico dan pendekatan kecerdasan buatan. "Pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan Indonesia, dengan memanfaatkan keragaman strain dengue yang beredar di dalam negeri," kata Prof Beti.

Pengujian awal menunjukkan aktivitas netralisasi yang signifikan terhadap keempat serotipe, di mana sejumlah konstruksi vaksin bahkan unggul dibandingkan wild type maupun pembanding komersial. Dari sisi regulasi, perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Jeffeta Pradeko Putra, memaparkan inisiatif GROW BPOM (Green Research and Opportunities With BPOM) yang menyediakan pendampingan regulasi, percepatan izin produksi, hingga registrasi produk hasil riset.

"BPOM berkomitmen mendampingi hilirisasi riset sejak dini. Lewat kolaborasi akademisi, bisnis, dan pemerintah, kami memfasilitasi pendampingan regulasi hingga izin edar agar produk inovasi peneliti Indonesia memenuhi standar keamanan dan mutu, sekaligus siap memberi manfaat nyata bagi masyarakat," ujar Jeffeta.

Untuk produk biofarmasi dengan siklus regulasi yang panjang, kolaborasi kampus dan industri didorong menggunakan pendekatan Pentahelix yang melibatkan akademisi, industri, pemerintah, masyarakat, dan media. Melalui workshop yang berlangsung pada 27-28 Agustus 2026 ini, Etana, UI, dan BPOM berupaya memperkuat ekosistem hilirisasi nasional melalui pemetaan TKT/TRL sejak dini, integrasi pendanaan riset, serta pelibatan industri dalam evaluasi riset secara berkelanjutan.

Berita Lainnya

Rekomendasi