Jumat 10 Dec 2021 06:38 WIB

Obesitas, Pasien Covid-19 Dua Kali Lebih Berisiko Masuk ICU

Orang obesitas 50 persen lebih berisiko meninggal dunia atau dirawat di ICU Covid-19.

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Reiny Dwinanda
Perawat menangani pasien Covid-19 obesitas di unit ICU bergerak yang didirikan di halaman rumah sakit Institut Pneumologi Nasional Marius Nasta di Bucharest, Rumania, Rabu, 6 Oktober 2021. Orang obesitas berisiko sakit parah ketika terpapar Covid-19.
Foto: AP/Andreea Alexandru
Perawat menangani pasien Covid-19 obesitas di unit ICU bergerak yang didirikan di halaman rumah sakit Institut Pneumologi Nasional Marius Nasta di Bucharest, Rumania, Rabu, 6 Oktober 2021. Orang obesitas berisiko sakit parah ketika terpapar Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi baru mengungkap kaitan antara indeks massa tubuh (IMT) dengan risiko kegawatan Covid-19. Orang dengan IMT tinggi ternyata 50 persen lebih berisiko meninggal dunia atau dirawat di unit perawatan intensif (ICU) rumah sakit jika terkena Covid-19.

Studi Gothenburg University di Swedia itu meneliti lebih dari 1.500 orang yang dirawat di rumah sakit karena terpapar Covid-19 untuk menilai kemungkinan perawatan intensif di rumah sakit hingga mengalami kematian. Diterbitkan dalam jurnal Plos One, penelitian ini menemukan bahwa kemungkinan masuk ICU RS adalah dua kali lipat lebih besar terjadi pada pasien obesitas dengan IMT lebih tinggi.

Baca Juga

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), IMT adalah indeks sederhana berat badan dan tinggi badan yang biasa digunakan untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas pada orang dewasa. IMT didefinisikan sebagai berat badan seseorang dalam kilogram yang dibagi dengan kuadrat tinggi badan seseorang dalam meter (kg/m2).

Sesuai dengan standar WHO, kelebihan berat badan adalah ketika IMT lebih besar dari atau sama dengan 25. Orang disebut obesitas kalau IMT-nya lebih besar atau sama dengan 30.

 

"Dalam kelompok banyaknya pasien Swedia dengan Covid-19 di ICU, IMT tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian dan lama tinggal di ICU. Berdasarkan temuan kami, kami menyarankan individu dengan obesitas harus lebih diawasi saat dirawat di rumah sakit karena Covid-19," kata para akademisi Swedia, seperti dikutip dari laman Indian Express, Kamis (9/12).

Sesuai studi Lancet yang diterbitkan pada Juni 2021, intervensi yang mengurangi berat badan dapat mengurangi risiko seseorang mengalami Covid-19 yang parah. Temuan terbaru dari Swedia ini memberi bukti.

Di jangka panjang, pihaknya menyoroti kebutuhan menuju berat badan yang sehat di tingkat populasi. Selain itu, upaya untuk mencapai berat badan yang sehat akan membantu mengurangi risiko penyakit diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan beberapa jenis kanker yang terus berlanjut selama pandemi dan yang membebani sistem perawatan kesehatan.

Bagaimana obesitas memengaruhi gejala Covid-19?

Obesitas adalah penyakit kronis yang umum, serius, dan mahal. Mengalami obesitas menempatkan orang pada risiko alami banyak penyakit kronis serius lainnya dan meningkatkan risiko penyakit parah akibat Covid-19, menurut konsultan ahli paru RS Yashoda di Hyderabad, India, Gopi Krishna Yedlapati.

Sementara itu, konsultan pulmonologis RS Yashoda Hyderabad Chetan Rao Vaddepally menyebut, obesitas memengaruhi sebagian besar proses fisiologis dan memodifikasi fungsi sistem, termasuk sistem kekebalan, sehingga membuat orang rentan terhadap banyak infeksi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement