REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memiliki hubungan yang sehat dan harmonis dengan keluarga maupun teman ternyata berkaitan dengan kesehatan mental dan fisik yang lebih baik. Hal itu terungkap dalam penelitian terbaru yang melibatkan lebih dari 200 ribu orang dari berbagai wilayah dunia.
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Mental Health menggunakan data survei dari 204.907 peserta dalam Global Flourishing Study. Studi itu mencakup responden dari Eropa, Amerika, Asia, Oseania, Timur Tengah, dan Afrika.
Hasil penelitian menunjukkan orang yang melaporkan tingkat kepuasan paling tinggi dalam hubungan keluarga atau pertemenan cenderung memiliki kondisi kesehatan mental dan fisik yang lebih baik. Veli Durmus, penulis studi sekaligus asisten profesor di Kutahya Health Sciences University Turki, mengatakan temuan tersebut menunjukkan pentingnya hubungan sosial sebagai bagian dari kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan.
"Dengan mempertimbangkan hal ini, perencanaan kesehatan masyarakat dan strategi pencegahan sebaiknya turut memperhitungkan dampak hubungan seseorang dengan orang lain dan keluarganya terhadap kesejahteraan mental maupun fisik," kata Dr Durmus dilansir laman Forbes, Senin (17/8/2026).
Temuan terbaru ini menambah bukti mengenai pentingnya hubungan keluarga yang harmonis bagi kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Sebuah studi prospektif selama 30 tahun yang diterbitkan dalam Journal of Family Psychology pada 2022 menemukan interaksi keluarga yang suportif pada masa awal kehidupan dapat berkontribusi terhadap terbentuknya hubungan keluarga yang positif ketika seseorang dewasa.
Hubungan keluarga yang positif tersebut kemudian berkaitan dengan kesehatan dan kebahagiaan yang lebih baik. Untuk membantu memperkuat hubungan keluarga, para pakar merekomendasikan terapi keluarga yaitu jenis konseling psikologis yang melibatkan beberapa atau seluruh anggota keluarga untuk memperbaiki komunikasi, meredakan konflik, dan memulihkan fungsi hubungan di dalam rumah.
Konselor berlisensi Matt Glowiak mengatakan banyak orang dapat memperoleh manfaat dari terapi keluarga. Menurut dia, terapi keluarga tidak hanya ditujukan bagi keluarga yang sedang mengalami krisis.
"Seperti terapi individual, kesalahpahaman yang umum adalah terapi keluarga hanya diperuntukkan bagi keluarga yang sedang mengalami krisis. Padahal, beberapa hasil terbaik terjadi ketika orang mencari bantuan sebelum masalah mencapai tahap krisis," kata Glowiak.
Psikolog klinis berlisensi dari Pathways Psychological Services di New York, Dara Houp, menambahkan bahwa terapi keluarga telah membantu sejumlah kliennya menghadapi persoalan kesehatan fisik dan mental, termasuk gangguan makan.
Dalam salah satu kasus, seorang klien menggunakan terapi keluarga untuk memperbaiki hubungan dengan ibunya, yang kemudian membawa perubahan positif baik bagi individu tersebut maupun keluarga. "Begitu dinamika keluarga yang tidak sehat itu mulai retak dan berubah, hubungan klien saya dengan makanan pun ikut berubah," kata Dr Houp.
Namun, terapi keluarga bukanlah solusi ajaib untuk menyembuhkan segala luka. Glowiak mengatakan ada kondisi ketika persoalan yang dihadapi terlalu besar untuk diperbaiki. la mencontohkan situasi yang melibatkan kekerasan, pengabaian, eksploitasi, atau tindakan yang terus-menerus membahayakan seseorang.
Dalam kondisi tersebut, rekonsiliasi atau upaya memperbaiki hubungan belum tentu memungkinkan dan bahkan bisa menjadi sesuatu yang tidak sehat. Glowiak juga mengatakan ada kalanya seseorang perlu memutuskan hubungan dengan satu atau beberapa anggota keluarganya.
"Pada akhirnya, keputusan ini sepenuhnya berada di tangan individu tersebut, bukan pada terapisnya. Pemulihan dan rekonsiliasi tidak selalu berarti hal yang sama. Terkadang, pemulihan berarti membangun kembali hubungan. Di lain waktu, pemulihan berarti belajar untuk melangkah maju tanpa hubungan tersebut," kata dia.
Menjauh dari keluarga yang memiliki hubungan tidak sehat bukan berarti seseorang kehilangan seluruh sumber dukungan sosial. Penelitian justru menemukan kaitan yang bahkan lebih kuat antara persahabatan dan kesehatan dibandingkan hubungan keluarga pada masa awal kehidupan.
"Lingkungan sosial seseorang terus berubah sepanjang hidupnya. Persahabatan, hubungan pasangan, dan relasi lainnya dapat memperkuat atau mengubah pengaruh dari pengalaman-pengalaman masa lalu," kata Dr Dumus.