REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) menawarkan sejumlah keuntungan, mulai dari fleksibilitas hingga waktu perjalanan yang lebih singkat. Namun, bagi pekerja yang tinggal sendiri, minimnya interaksi sosial selama bekerja dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya tekanan mental dan rasa terisolasi.
Temuan tersebut berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science. Peneliti menganalisis data survei nasional selama lebih dari satu dekade dan membandingkan kondisi pekerja pada pekerjaan yang memungkinkan dilakukan dari jarak jauh dengan pekerja pada pekerjaan yang mengharuskan kehadiran secara langsung.
Pekerja yang tinggal sendiri dan memiliki pekerjaan yang memungkinkan dilakukan secara jarak jauh dilaporkan mengalami tekanan mental serta isolasi sosial yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang pekerjaannya mengharuskan hadir secara langsung.
Penelitian juga menemukan pekerja dalam kelompok tersebut menghabiskan sekitar 25 persen hari tanpa kontak sosial. Angka itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan pekerja pada pekerjaan yang tidak memungkinkan dilakukan secara jarak jauh.
Psikolog organisasi sekaligus pendiri Institute for Life at Work, Dr Constance Noonan Hadley, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan kondisi tersebut tidak otomatis berarti bekerja dari kantor merupakan solusi. Menurut dia, kehadiran di kantor tidak selalu menjamin seseorang memperoleh interaksi sosial yang bermakna.
"Ketika pergi ke kantor, bukan berarti seseorang otomatis berada dalam lingkungan yang bermakna dan memenuhi kebutuhan sosial," ujar Hadley, dikutip dari CNN, Rabu (16/9/2026).
Ia mengatakan upaya mengatasi kesepian dan isolasi sebaiknya dimulai dengan memperbanyak waktu di lingkungan tempat seseorang merasa dihargai dan dipahami. Lingkungan tersebut dapat berada di kantor maupun di tempat lain.