REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Layanan pertolongan pertama untuk krisis psikologis milik Kementerian Kesehatan RI, Healing119, banyak diakses masyarakat. Dalam tiga jam, jumlah yang mengakses layanan tersebut mencapai sekitar 500 hingga 600 orang.
Dokter spesialis kedokteran jiwa atau psikiater dr Ida Rochmawati menilai, lonjakan ini dapat menjadi tanda bahwa masyarakat lebih sadar akan pentingnya mencari bantuan ketika mengalami tekanan psikologis. Hal ini berbeda dengan beberapa tahun lalu di mana banyak orang lebih memilih untuk memendam.
"Saya melihat ini sebagai tanda yang cukup baik bahwa masyarakat sekarang mulai lebih aware. Ketika seseorang merasa sedang mengalami masalah atau tekanan psikologis, dia mulai tahu bahwa ada tempat untuk mencari bantuan. Dulu mungkin orang lebih banyak diam atau tidak tahu harus mencari pertolongan ke mana," kata dr Ida saat dihubungi Republika, Sabtu (26/9/2026).
Menurut dr Ida, tingginya akses terhadap Healing119 menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap dukungan psikologis. Namun, ia menegaskan bahwa orang yang mengalami krisis psikologis tidak serta-merta berarti memiliki gangguan kejiwaan.
"Kita perlu membedakan antara orang yang sedang mengalami stres atau krisis psikologis dengan orang yang mengalami gangguan jiwa. Jadi angka 500-600 orang dalam satu shift itu lebih menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap layanan dukungan psikologis cukup besar, bukan otomatis berarti angka gangguan jiwa sebesar itu," kata dia.
Dokter Ida mengatakan layanan Healing119 sangat penting karena individu yang sedang mengalami krisis mental membutuhkan pertolongan segera. Terkadang, ada orang yang sebenarnya sudah merasa tidak sanggup menghadapi persoalan tetapi belum mengetahui harus berbicara dengan siapa. Karena itu, keberadaan hotline dapat menjadi pintu awal untuk mulai bercerita dan mendapatkan pertolongan.
"Adanya hotline membuat orang punya satu pintu untuk mulai bercerita dan mendapatkan pertolongan awal," kata dr Ida.