REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di balik stigma sosial yang kerap mengekang, benang-benang tenun tradisional dari Nusa Tenggara Timur merajut harapan baru bagi mereka yang berjuang melawan skizofrenia. Di Gedung Filantropi, Jakarta Selatan, karya-karya tangan telaten dari Kabupaten Sikka dipamerkan dalam gelaran bertajuk "Pulih, Berkarya, dan Berdaya" pada Rabu (2/9/2026).
Dari sana terlihat bahwa kreativitas manusia tidak "tunduk" pada batasan diagnosis medis apa pun. Pameran inspiratif ini merupakan buah manis dari kolaborasi lintas lembaga yang melibatkan Yayasan Lentera Kesehatan Nusantara, Yayasan Papha Indonesia, serta Dompet Dhuafa, yang bersama-sama merangkul para penyintas skizofrenia agar kembali menemukan arti keberdayaan hidup.
Pameran tersebut menampilkan sejumlah karya tenun ikat penuh makna yang dihasilkan oleh tiga Orang dengan Skizofrenia (ODS) asal Kabupaten Sikka, yakni Maria Yasni, Kristina Yance, serta Albina Marta. Di tengah proses pemulihan yang panjang dan penuh tantangan di bawah pendampingan Yayasan Papha, ketiganya membuktikan bahwa ketekunan merajut mampu menjadi medium katarsis sekaligus jembatan tangguh untuk kembali terhubung dengan masyarakat luas tanpa sekat.
Sebagai salah satu inisiator dari projek karya ini, Ketua Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa, Ismail A Said, menyerukan dukungan penuh terhadap kegiatan-kegiatan pemberdayaan yang telah dilaksanakan di Kabupaten Sikka. Ia menilai kegiatan ini memiliki dampak yang sangat baik untuk mengubah persepsi publik yang selama ini kerap keliru memandang ODS.
“Bagi kami, kegiatan ini merupakan program yang sangat penting untuk membangun pemahaman yang lebih utuh mengenai Orang dengan Skizofrenia atau ODS. Sekaligus mendukung kolaborasi dalam proses pemulihan yang baik,” kata Ismail pada Rabu (2/9/2026).
Menurut Ismail, stigma yang dihadapi oleh seorang ODS kerap berawal dari asumsi masyarakat yang sempit mengenai diagnosa mereka, sehingga menghalangi ruang bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang di luar prasangka buruk yang kadung melekat. Melalui kegiatan tenun ini, para ODS mendapatkan wadah kreatif yang otentik untuk mengekspresikan diri secara bebas.
“Ketika berbicara tentang skizofrenia, sering kali orang lebih dahulu dipandang dari diagnosis dan keterbatasannya. Padahal dibaliknya, terdapat manusia yang punya kreativitas, aspirasi, dan potensi yang belum kita ketahui dan memang harus kita gali,” kata Ismail.
Dompet Dhuafa turut mengerahkan upaya pemulihan yang komprehensif melalui program konseling kesehatan mental. Ismail menyatakan program tersebut sudah berjalan kurang lebih dua tahun dengan mengusung basis peer counseling yaitu konseling yang dilakukan oleh konselor yang sebaya, dengan mengusung nama "Aku Temanmu". Konsep ini dirancang untuk memastikan tidak ada jarak psikologis antara konselor dan pasien yang didampingi.
Semangat dalam upaya pemulihan ini disambung dengan hangat oleh Direktur Eksekutif Yayasan Lentera Kesehatan Nusantara, Dr Esty Febriani, M Kes, yang menyatakan bahwa tujuan akhir dari seluruh program ini merupakan upaya inklusivitas yang melampaui sekadar pemulihan ODS, melainkan integrasi penuh kembali kepada masyarakat sebagai individu yang berdaya dan produktif.
“Setelah pulih itu yang menjadi tantangan. Bagaimana kita memastikan teman-teman ODS, teman-teman dengan disabilitas psikososial akan terus stabil. Kita ingin mendapatkan perspektif yang luas, bahwa teman-teman ini mampu untuk berdaya, mampu berkarya, dan akhirnya juga inklusif secara sosial dan kegiatan lain di masyarakat,” ujar Esty.