Kamis 03 Sep 2026 22:00 WIB

Kesiapan Mental Gen Z Dinilai Jadi Kunci Karier Global

Skill teknis perlu diimbangi kemampuan adaptasi dan stabilitas emosi.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Satria K Yudha
(Ilustrasi) Para pencari kerja melakukan registrasi saat Job Fair 2025 yang digelar Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung, di Graha Manggala Siliwangi, Kota Bandung, Selasa (17/6/2025).
Foto: Edi Yusuf
(Ilustrasi) Para pencari kerja melakukan registrasi saat Job Fair 2025 yang digelar Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung, di Graha Manggala Siliwangi, Kota Bandung, Selasa (17/6/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peluang kerja di luar negeri semakin terbuka bagi generasi muda Indonesia, tetapi kemampuan bahasa dan keterampilan teknis saja belum cukup untuk menghadapi pasar kerja global. Kesiapan mental dan kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan karier pekerja muda di negara tujuan.

Bagi sebagian pekerja muda, bekerja di luar negeri juga tidak lagi semata-mata untuk mendapatkan penghasilan lebih tinggi. Pengalaman kerja mulai dipandang sebagai kesempatan meningkatkan keterampilan, memperluas pengalaman, dan membangun karier dalam jangka panjang.

Baca Juga

Owner TRUSTINDO Consultant Wina Novita Dewi mengatakan, Gen Z memiliki pertimbangan yang lebih luas dalam memilih pekerjaan, termasuk kesempatan belajar, pengembangan keterampilan, pengalaman, dan prospek karier.

“Pekerjaan bukan lagi semata-mata tentang besaran gaji, tetapi juga kesempatan untuk terus belajar, mengembangkan diri, memperoleh pengalaman, dan membangun masa depan,” ujar Wina, Kamis (3/9/2026).

Perubahan ekspektasi tersebut turut menjadi tantangan bagi Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI). Perbedaan budaya kerja, ritme pekerjaan, pola komunikasi, hingga kondisi kehidupan di negara tujuan dapat memicu culture shock ketika calon pekerja belum memiliki kesiapan mental yang memadai.

Karena itu, proses seleksi perlu mempertimbangkan aspek psikologis, seperti motivasi kerja, stabilitas emosi, daya juang, kepribadian, ketelitian, dan kemampuan beradaptasi. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah Behavioral Event Interview (BEI) untuk menggali pengalaman kandidat ketika menghadapi tekanan, konflik, dan situasi sulit.

Wina menekankan, asesmen psikologis bukan untuk menentukan baik atau buruknya seorang kandidat. Asesmen digunakan untuk membantu LPK dan P3MI memahami kesiapan mental, karakter, motivasi, serta kemampuan adaptasi calon pekerja.

"Asesmen psikologis bukanlah proses untuk menghakimi atau menentukan apakah seorang kandidat ‘baik’ atau ‘tidak baik’. Asesmen justru menjadi alat bagi LPK atau P3MI untuk memahami kesiapan mental, karakter, motivasi, serta kemampuan adaptasi kandidat secara lebih menyeluruh," ujar Wina.

Pendampingan juga perlu berlanjut setelah pekerja berada di negara tujuan. Melalui Trustindo Mobile, pekerja dapat berkonsultasi dengan psikolog Trustindo ketika menghadapi tekanan pekerjaan, persoalan pribadi, maupun tantangan adaptasi.

Trustindo Consultant telah mendampingi LPK dan P3MI dalam proses seleksi dan pemetaan psikologis calon pekerja serta pemagang luar negeri sejak 2017. Kesiapan tenaga kerja Indonesia di pasar global tidak hanya berkaitan dengan kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan menjaga stabilitas emosi.

"Dengan pemahaman tersebut, proses penempatan dapat dilakukan secara lebih tepat, sehingga kandidat memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang di tempat kerja, sekaligus menekan risiko dropout," ujar Wina.

Berita Lainnya

Rekomendasi