REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengurangi makanan ultra-proses mungkin dapat membantu menurunkan gejala depresi. Temuan itu muncul dalam studi University of California, San Francisco (UCSF) yang menunjukkan perbaikan gejala depresi setelah peserta mengubah pola makan mereka.
Studi yang diterbitkan di jurnal JAMA Psychiatry menjadi studi awal yang secara langsung membandingkan kondisi orang depresi, sebelum dan setelah mereka mengurangi konsumsi makanan ultra-proses. Penelitian ini diyakini bisa memberi petunjuk mengenai peran pola makan terhadap intervensi depresi.
"Ini membuka pintu ke bidang penyelidikan baru untuk penelitian depresi Kita mengatasi masalah dengan solusi berteknologi tinggi yang mahal, seperti obat-obatan, yang merupakan hal yang baik. Tetapi pola makan telah diabaikan," kata psikiater sekaligus peneliti senior Dr Andrew Krystal dilansir laman San Francisco Chronicle, Jumat (2/10/2026).
Makanan ultra-proses mencakup makanan ringan kemasan, makanan cepat saji, minuman berpemanis, serta berbagai produk yang dibuat secara industri. Produk-produk tersebut dapat mengandung bahan seperti pengawet, pewarna buatan, dan penguat rasa.
Studi ini hanya melibatkan 20 peserta berusia 18 hingga 80 tahun yang telah didiagnosis depresi. Sebagian besar peserta juga mengalami gangguan kecemasan. Seluruh peserta mengalami kelebihan berat badan dan memiliki setidaknya satu gangguan metabolisme.
Peserta dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok mempertahankan pola makan seperti biasa selama empat pekan, serta kelompok lainnya menjalani pola makan dengan kandungan makanan ultra-proses yang rendah.
Mereka membeli dan memilih makanan sendiri dengan panduan dari tim peneliti. Setelah empat pekan, kedua kelompok bertukar pola makan. Dengan pola tersebut, peserta berhasil mengurangi konsumsi makanan ultra-proses lebih dari 85 persen.
Pada periode ketika konsumsi makanan ultra-proses ditekan, para peserta menunjukkan perbaikan gejala depresi dalam tiga ukuran yang digunakan peneliti. Perbaikannya berada pada tingkat sedang hingga besar. Skor kecemasan juga mengalami perbaikan, meski lebih kecil.
Para peneliti belum mengetahui secara pasti bagaimana makanan ultra-proses dapat memengaruhi otak dan suasana hati. Ada sejumlah kemungkinan mekanisme yang sedang diteliti.
Peneliti studi, Dr Nyasha Chagwedera, menduga makanan ultra-proses merusak lapisan pelindung usus sehingga menciptakan kondisi usus yang tidak seimbang. Kerusakan tersebut, menurut hipotesis Chagwedera, dapat memicu peradangan kronis tingkat rendah di seluruh tubuh.
Peradangan itu mungkin secara langsung berkontribusi terhadap depresi atau membuat seseorang lebih rentan mengalaminya. "Dengan kata lain, proses pengolahan yang tidak sehat mungkin membahayakan usus dengan cara yang kemudian berdampak hingga ke otak," kata Chagwedera.
Menurut Chagwedera, mengurangi makanan ultra-proses memang menantang karena makanan tersebut sangat lezat, murah, dan nyaman dikonsumsi. Makanan ultra-proses juga dapat memicu dopamin, zat kimia yang berperan dalam sistem penghargaan otak dan mendorong keinginan untuk mengonsumsi makanan tersebut.
Tantangan itu bisa semakin besar bagi orang yang sedang mengalami depresi. Ketika seseorang mengalami depresi, motivasi untuk melakukan perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari bisa menurun. Karena itu, perubahan pola makan secara drastis dapat terasa semakin sulit.
Namun demikian, penelitian UCSF masih berada pada tahap awal. Dengan hanya 20 peserta, hasil studi ini belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa mengurangi makanan ultra-proses bisa menjadi salah satu terapi depresi.
Para peneliti kini merencanakan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar. Pendaftaran peserta untuk fase kedua penelitian diperkirakan dimulai pada 2028. Studi lanjutan diharapkan dapat membantu para ilmuwan memahami apakah pengurangan makanan ultra-proses benar-benar berperan dalam meredakan gejala depresi.