Sabtu 07 Nov 2026 11:52 WIB

Dokter Ingatkan Bahaya Stigma terhadap Orang dengan Obesitas

Stigma buat orang dengan obesitas enggan berkonsultasi dengan nakes.

Dari kiri, Associate Director Customer Engagement Novo Indonesia Inggita Sistha Widyawan, dokter spesialis gizi klinik dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK, dokter spesialis kedokteran jiwa dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ, dan Associate Director Medical & Regulatory Novo Indonesia dr. Riyanny M. Tarliman, dalam peluncuran kampanye Hidup Lebih Ringan di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Foto: Republika/Indira Rezkisari
Dari kiri, Associate Director Customer Engagement Novo Indonesia Inggita Sistha Widyawan, dokter spesialis gizi klinik dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK, dokter spesialis kedokteran jiwa dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ, dan Associate Director Medical & Regulatory Novo Indonesia dr. Riyanny M. Tarliman, dalam peluncuran kampanye Hidup Lebih Ringan di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

JAKARTA -- Stigma terhadap berat badan tidak hanya berdampak pada kepercayaan diri, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan menghambat seseorang mencari pertolongan medis. Padahal, obesitas dan kesehatan mental memiliki hubungan dua arah yang saling memengaruhi.

Dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ, menjelaskan, orang dengan obesitas dapat mengalami tekanan psikologis akibat stigma dari lingkungan maupun penilaian terhadap dirinya sendiri. Kondisi tersebut turut memengaruhi kesejahteraan emosional dan cara seseorang memandang dirinya.

Baca Juga

"Stigma bisa kontraproduktif karena memengaruhi well-being dan perilaku seseorang dalam mencari bantuan untuk memperbaiki kondisi kesehatannya," ujar Putri dalam diskusi media mengenai hubungan obesitas dan kesehatan mental di Jakarta yang digelar Novo Indonesia.

Menurut dia, obesitas dan gangguan kesehatan mental tidak bisa lagi dipandang sebagai dua persoalan yang terpisah. Keduanya memiliki hubungan timbal balik yang dapat membentuk lingkaran yang sulit diputus apabila tidak ditangani secara tepat.

Putri mencontohkan, obesitas berkaitan dengan peradangan sistemik atau inflamasi dalam tubuh. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko depresi. Di sisi lain, masalah kesehatan mental juga bisa memengaruhi pola makan, tidur, dan aktivitas fisik seseorang.

Ketika mengalami tekanan psikologis, seseorang mungkin mencari cara untuk mengatasi emosinya melalui perilaku tertentu, salah satunya stress eating atau makan sebagai respons terhadap stres. Aktivitas fisik yang berkurang akibat kondisi mental yang menurun juga dapat berpengaruh terhadap berat badan.

"Hubungannya menjadi seperti lingkaran yang harus diputus dari dua sisi," kata Putri.

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi