REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sony Music meminta platform digital menghapus lebih dari 260 ribu lagu deepfake berbasis kecerdasan buatan (Al) hingga akhir September. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan permintaan penghapusan pada akhir Maret yang mencapai 135 ribu lagu.
Langkah tersebut dilakukan Sony Music di tengah meningkatnya peredaran lagu deepfake yang meniru suara artis tanpa izin, mulai dari Harry Styles hingga Adele. Menurut perusahaan, deepfake tidak hanya merugikan artis, namun juga menyesatkan penggemar dan merusak penggunaan Al secara etis.
"Kami akan terus menegakkan hak-hak artis kami dan mengharapkan platform bertindak cepat serta mencegah konten yang sama muncul kembali. Namun, ini menjadi perjuangan yang semakin berat," kata Sony Music dilansir laman Music Week, Selasa (6/10/2026)
Sony Music bersama Universal Music dan Warner Music termasuk di antara perusahaan musik yang mendukung Streaming Integrity Initiative (SIl) yang diluncurkan oleh IFPI, organisasi nirlaba internasional yang mewakili industri rekaman musik global. Inisiatif tersebut merupakan komitmen baru industri musik untuk memerangi kecurangan dalam streaming.
Langkah ini dilakukan ketika industri musik menghadapi konten Al generatif yang masif sekaligus potensi penyalahgunaan sistem streaming. Awal tahun ini, menurut laporan platform streaming Deezer, ada 75 ribu lagu yang dibuat menggunakan Al setiap hari. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 44 persen dari seluruh unggahan musik harian.
Presiden Bisnis Digital Global di Sony Music, Dennis Kooker, mengatakan pada Mei lalu bahwa deepfake biasanya muncul ketika musisi sedang dalam periode promosi dan aktif memasarkan musiknya. Pada kondisi tersebut, pembuat deepfake mengambil keuntungan dari interaksi yang telah dibangun musisi bersama para penggemarnya.
"Konten-konten ini mengambil keuntungan dari minat pasar yang telah dibangun musisi bersama penggemar mereka, dan pada akhirnya justru menghambat tujuan yang ingin dicapai musisi tersebut dalam interaksinya dengan basis penggemar," kata Kooker.
Persoalan deepfake juga menjadi bagian dari masalah yang lebih luas, yakni streaming fraud atau kecurangan streaming. Kooker mengatakan skala kecurangan streaming di seluruh ekosistem musik masih belum diketahui secara pasti. Namun, ia memperkirakan 5 hingga 10 persen streaming berpotensi merupakan streaming yang curang.
"Ya, saya rasa itu mungkin. Sayangnya, cara ekosistem ini bekerja memberikan insentif besar bagi mereka yang ingin mengeksploitasinya untuk menciptakan banyak streaming," kata Kooker.
Kecurangan streaming tidak hanya dilakukan melalui lagu deepfake. Lagu-lagu yang dibuat secara massal menggunakan Al juga dapat diputar berulang kali oleh bot untuk menghasilkan royalti bagi pemiliknya. Praktik tersebut pada akhirnya mengurangi pendapatan artis dan pemegang hak yang sah.