Selasa 06 Oct 2026 08:32 WIB

Edukasi Penting dari Pakar agar Anak Terhindari dari Penculikan di Gerbang Sekolah

Gerbang sekolah dinilai merupakan salah satu titik penting dalam perlindungan anak.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Penculikan anak di sekolah (ilustrasi). Dugaan modus penculikan anak di sekitar gerbang sekolah beredar lewat unggahan yang beredar di media sosial Threads.
Foto: Republika/Daan Yahya
Penculikan anak di sekolah (ilustrasi). Dugaan modus penculikan anak di sekitar gerbang sekolah beredar lewat unggahan yang beredar di media sosial Threads.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dugaan modus penculikan anak di sekitar gerbang sekolah beredar lewat unggahan yang beredar di media sosial Threads. Pelaku disebut-sebut mencoba mengintip nama anak di buku atau tas agar bisa pura-pura mengenali untuk menjemput si kecil.

Dalam situasi seperti ini, kewaspadaan terhadap keselamatan anak perlu ditingkatkan. Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Dr Yulina Eva Riany, mengatakan gerbang sekolah merupakan salah satu titik penting dalam perlindungan anak karena menjadi tempat bertemunya anak, orang tua, penjemput, dan orang lain, terutama pada jam pulang sekolah. Orang tua dan sekolah perlu membangun sistem pengawasan berlapis. Hal ini dapat dilakukan dengan memperketat prosedur penjemputan, memastikan perubahan penjemputan dikonfirmasi, serta menentukan area aman bagi anak yang belum dijemput.

Baca Juga

"Jika terdapat pendekatan yang mencurigakan, pihak sekolah perlu mencatat dan memeriksa kejadian tersebut, menghubungi orang tua, serta melapor kepada pihak berwenang apabila terdapat ancaman," kata Dr Yulina dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (6/10/2026).

Selain memperketat pengawasan, orang tua perlu membekali anak pemahaman khusus terkait batas aman atau body safety dan privasi sejak dini. Seseorang yang tahu nama anak belum tentu merupakan orang yang diizinkan untuk menjemput atau mengajak mereka pergi.

Anak perlu mengetahui informasi pribadi yang harus dijaga, seperti nama lengkap, alamat, nama orang tua, nomor telepon, kelas, hingga jadwal dan cara pulang sekolah. "Edukasi tersebut dapat dilakukan melalui simulasi atau bermain peran agar anak terbiasa menghadapi situasi ketika seseorang yang tidak dikenal menanyakan informasi pribadi," kata dia.

Dr Yulina juga mengingatkan agar edukasi kepada anak tidak dilakukan dengan menanamkan ketakutan terhadap semua orang asing. Anak perlu diajarkan untuk mengenali perilaku dan situasi yang tidak aman, bukan sekadar menilai seseorang dari penampilannya.

"Anak boleh menolak ajakan, hadiah, atau permintaan untuk pergi bersama seseorang tanpa izin orang tua atau guru, sekalipun orang tersebut terlihat ramah atau mengaku mengenal keluarga," kata Dr Yulina.

Keterampilan lain yang menurutnya penting adalah kemampuan berkata "tidak", mengambil jarak, mencari bantuan, dan melaporkan kejadian kepada orang dewasa yang dipercaya. Anak juga perlu mengetahui tempat dan orang yang aman untuk meminta pertolongan, seperti guru, petugas keamanan, atau petugas sekolah.

"Anak tidak perlu memastikan lebih dulu apakah seseorang berniat buruk. Jika ada ajakan pergi, perubahan rencana penjemputan, permintaan merahasiakan sesuatu dari orang tua, atau tindakan yang membuatnya tidak nyaman, anak boleh langsung kembali ke guru atau petugas sekolah," ujar Dr Yulina.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi