Senin 02 Nov 2026 18:13 WIB

Benarkah Minum Es Saat Musim Hujan Bikin Flu dan Batuk?

Musim pancaroba menjadi masa yang cukup rawan bagi ketahanan tubuh.

Air putih dingin (ilustrasi). Musim hujan kerap kali membawa serta berbagai mitos kesehatan yang telah lama berakar di tengah masyarakat. Salah satu anggapan yang paling populer adalah larangan mengonsumsi minuman dingin karena dipercaya dapat langsung menyebabkan flu, batuk, atau pilek.
Foto: Dok. Magnific
Air putih dingin (ilustrasi). Musim hujan kerap kali membawa serta berbagai mitos kesehatan yang telah lama berakar di tengah masyarakat. Salah satu anggapan yang paling populer adalah larangan mengonsumsi minuman dingin karena dipercaya dapat langsung menyebabkan flu, batuk, atau pilek.

JAKARTA -- Musim hujan kerap kali membawa serta berbagai mitos kesehatan yang telah lama berakar di tengah masyarakat. Salah satu anggapan yang paling populer adalah larangan mengonsumsi minuman dingin karena dipercaya dapat langsung menyebabkan flu, batuk, atau pilek. Namun, dari sudut pandang medis, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Infeksi saluran pernapasan pada dasarnya disebabkan oleh serangan mikroorganisme, bukan sekadar karena suhu minuman yang kita konsumsi saat cuaca dingin. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi imunologi, Dr dr Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM, mengatakan minum es saat musim hujan sebenarnya bukan penyebab utama seseorang mendadak sakit flu, batuk, atau pilek.

Baca Juga

Penyakit-penyakit tersebut murni dipicu oleh infeksi virus. Apabila tubuh berada dalam kondisi prima dan tidak tertular virus, minum es tidak akan serta-merta membuat seseorang terkena flu.

"Jadi kalau badan sehat, silakan saja minum es. Kalau sedang batuk pilek atau punya alergi saluran napas, sebaiknya dikurangi dulu," ujar Sukamto, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

Meskipun pada orang bertubuh sehat minum es saat musim hujan tidak memicu penyakit, Sukamto mengingatkan bahwa dampaknya bisa berbeda bagi mereka yang memiliki saluran pernapasan sensitif. Pada penderita rinitis alergi atau asma, minuman dingin dapat memicu reaksi spontan berupa bersin, hidung tersumbat, hingga batuk. Reaksi tersebut merupakan bentuk iritasi akibat paparan suhu dingin, bukan disebabkan oleh proses infeksi.

Selain masalah minuman, perubahan kondisi lingkungan selama musim hujan juga perlu diwaspadai. Udara yang cenderung lembap menjadi tempat ideal bagi jamur dan tungau debu rumah untuk berkembang biak, yang pada akhirnya dapat memicu kambuhnya penyakit pernapasan. Ditambah lagi, kecenderungan orang untuk lebih banyak berkumpul di dalam ruangan saat hujan membuat penularan virus seperti influenza, Respiratory Syncytial Virus (RSV), hingga Covid-19 menjadi jauh lebih cepat.

Tidak hanya penyakit pernapasan, masyarakat juga disarankan untuk mewaspadai ancaman kesehatan lain yang mengintai selama musim hujan. Genangan air hujan dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk pembawa demam berdarah, sementara bencana banjir berpotensi memicu timbulnya penyakit diare dan tifoid.

“BMKG juga sudah mengingatkan bahwa jarak dari awal musim hujan ke puncaknya tahun ini pendek, jadi sebaiknya kita bersiap dari sekarang,” kata Sukamto, yang merupakan Dosen tetap di Divisi Alergi Imunologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan memang menjadi masa yang cukup rawan bagi ketahanan tubuh, terlebih jika kemarau berlangsung cukup panjang. Masa transisi ini menuntut tubuh untuk beradaptasi lebih ekstra terhadap perubahan cuaca dan lingkungan.

"Selama berbulan-bulan saluran napas kita terpapar udara kering, debu, dan polusi, jadi pertahanannya sudah agak terganggu. Lalu hujan datang, suhu dan kelembapan berubah cepat, dan tubuh butuh waktu untuk menyesuaikan diri,” ujar Sukamto.

 

sumber : Antara
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi