Jumat 03 May 2024 06:33 WIB

Picu Beragam Masalah Kesehatan, Merokok Setelah Makan Lebih Berbahaya?

Orang sebetulnya bisa berhenti merokok tanpa metode apapun.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Reiny Dwinanda
Tekad yang kuat dibutuhkan untuk bisa berhenti merokok.
Foto: Prayogi/Republika
Tekad yang kuat dibutuhkan untuk bisa berhenti merokok.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para perokok biasanya otomatis mengambil sebatang rokok dan mengisapnya seusai makan. Mereka mengaku mulut terasa asam jika tidak merokok setelah makan.

Merokok dapat menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan. Jika dilakukan setelah makan, apakah lebih berbahaya?

Baca Juga

Dokter spesialis paru dari RS Persahabatan di Jakarta, Elisna Syahruddin, mengatakan, tidak ada bukti ilmiah tentang perbedaan merokok sebelum atau sesudah makan. Masalah kesehatan rokok tetap ada pada akibat kandungan dari asap rokok.

"Terutama zat karsinogen (penyebab kanker) dan iritasi asap rokok yang terus-menerus pada saluran napas yang jadi penyebab risiko terjadinya kanker paru dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) meningkat," jelas dr Elisna kepada Republika.co.id.

Gangguan kesehatan lain dapat muncul akibat menurunnya sistem pertahanan paru akibat paparan asap rokok yang berlangsung lama. Hal itu terlihat korelasi antara meningkatnya risiko terkena infeksi saluran napas seperti TB paru pada perokok.

 

"Keinginan merokok sesudah makan lebih pada kebiasaan dan mungkin juga perbedaan sensasi di mulut yang menyebabkan kebiasaan itu berlanjut," papar dr Elisna.

Dorongan untuk merokok setelah makan juga menjadi tantangan dalam menghentikan kebiasaan merokok. Sama halnya dengan keinginan merokok ketika orang beraktivitas di toilet serta persepsi meningkatnya konsentrasi jika bekerja atau belajar sambil merokok.

 

"Kaitan antara psikis dengan keinginan merokok terbukti pada perokok yang dapat menahan keinginan merokok sampai 12 jam pada saat melakukan puasa Ramadhan, atau dapat berhenti merokok ketika berada dalam area dilarang merokok, misalnya ketika menempuh penerbangan jauh hingga 18 jam," kata dr Elisna.

Sementara itu, untuk berhenti merokok, sebetulnya tidak pula ribet. Dari pengalaman klinisnya, dr Elisna menjelaskan orang bisa berhenti merokok tanpa metode apapun.

Orang dapat membebaskan dirinya dari kecanduan meski itu hanya karena keterpaksaan. Misalnya, ketika didiagnosis menderita penyakit paru-paru seperti kanker paru-paru, PPOK, dan TB paru. Sebagian besar pasien dapat menghentikan kebiasaan merokok tanpa komplikasi apapun.

"Pada orang sehat, kadang membutuh metode dengan menggunakan metode tertentu agar dapat menghentikan kebisaan merokoknya," ucap dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement