Rabu 21 Feb 2024 01:12 WIB

Dokter: Afirmasi Positif Penting Guna Atasi Remaja Sakiti Diri Sendiri

Membangun pola pikir yang positif membutuhkan waktu dan perlu dibiasakan.

Spesialis kesehatan jiwa dari Rumah Sakit Persahabatan, Alvinia Hayulani mengatakan intervensi berupa afirmasi positif penting guna mencegah remaja atau dewasa muda melakukan self harm.
Foto: Unsplash
Spesialis kesehatan jiwa dari Rumah Sakit Persahabatan, Alvinia Hayulani mengatakan intervensi berupa afirmasi positif penting guna mencegah remaja atau dewasa muda melakukan self harm.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Spesialis kesehatan jiwa dari Rumah Sakit Persahabatan, Alvinia Hayulani mengatakan intervensi berupa afirmasi positif penting guna mencegah remaja atau dewasa muda melakukan self harm atau menyakiti diri sendiri. Hal tersebut diungkapkan Alvinia Hayulani sebagai respons dari fenomena sejumlah remaja dan dewasa muda yang menyakiti diri sendiri.

"Fenomena itu terkait dengan otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, yaitu prefrontal cortex," katanya dalam talkshow Keluarga Sehat dengan tema 'Berpikir Positif untuk Mental yang Sehat' yang disiarkan Kementerian Kesehatan di Jakarta, Selasa (20/2/2024).

Baca Juga

Menurut dia, pengambilan keputusan, impulsivitas itu bisa matang sempurna di usia 25 tahun. Hanya pada kasus-kasus remaja, dewasa muda banyak yang pengambilan keputusannya masih kurang tepat.

Dia mengatakan untuk intervensi perlu dilakukan self talk atau berbicara dengan diri sendiri, menggunakan kalimat-kalimat yang positif. Apabila dilakukan secara berulang, bagian otak seperti prefrontal cortex dan amygdala akan aktif. Hal tersebut, akan menciptakan sebuah pola pikir dan menjadi sebuah keyakinan.

"Keyakinan inilah yang akan mempengaruhi perilaku kita ke depannya. Jadi, penting banget ya untuk selalu berusaha berpikir positif. Penting banget untuk memasukkan hal-hal atau memilah hal-hal yang mau kamu masukkan ke dalam pikiran," ujarnya.

Dia menilai berpikir positif dapat menyehatkan tubuh dan membantu seseorang menyelesaikan permasalahan secara lebih fokus. Berpikir positif bukan berarti mengabaikan situasi yang kurang menyenangkan, melainkan menghadapi suatu permasalahan secara lebih positif dan produktif dengan memikirkan dan mengharapkan hal-hal baik akan terjadi.

Menurutnya, membangun pola pikir yang positif membutuhkan waktu dan perlu dibiasakan.

Dalam kesempatan itu, ia mengemukakan sejumlah cara untuk tetap berpikir positif meski situasi buruk. Pertama, dengan mengambil jeda dan memroses semua emosi yang muncul. Misalnya, apabila merasa kesal, marah, atau ingin menangis.

"Ketika saat itu rasanya memang kita sedih, ya udah proses rasa sedihnya. Ketika ingin menangis, ya menangis. Ketika lagi kesel, kita kesel. Ketika kita sedang marah, ya udah terima rasa marahnya," ujarnya.

Setelah semua emosi dikeluarkan, selanjutnya adalah dengan melepaskan segala hal yang di luar kontrol dan berfokus pada hal-hal yang masih bisa dikendalikan, misalnya pikiran sendiri. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan afirmasi-afirmasi positif pada diri sendiri.

Selain itu, ujarnya, pemikiran positif juga dapat dibangun dengan bergabung dalam lingkungan pergaulan yang dipenuhi orang-orang berpikiran positif.

Kegiatan-kegiatan relaksasi, yang dapat menumbuhkan pemikiran seperti itu adalah meditasi, yoga. "Cara termudah adalah dengan menarik nafas agar dapat menjadi rileks dan tenang, sehingga dapat berpikir jernih," ucapnya.

 

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement