Senin 25 Dec 2023 22:34 WIB

Tanda Demensia Bisa Diketahui Saat Mandi, Bagaimana Caranya?

Gejala demensia dapat bervariasi dari satu pasien dengan pasien lain.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti
Demensia (ilustrasi). Mengenali tanda peringatan dini demensia menjadi sangat penting karena dapat membuka jalan bagi perawatan pasien.
Foto: picpedia.org
Demensia (ilustrasi). Mengenali tanda peringatan dini demensia menjadi sangat penting karena dapat membuka jalan bagi perawatan pasien.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengenali tanda peringatan dini demensia menjadi sangat penting karena dapat membuka jalan bagi perawatan pasien. Meski belum ada obat yang dapat menyembuhkan demensia, namun intervensi medis dini akan sangat membantu.

Gejala demensia dapat bervariasi dari satu pasien dengan pasien lain. Kehilangan memori dan kebingungan adalah dua tanda yang paling umum. Gejala lain kecepatan berpikir yang lebih lambat, berkurangnya ketajaman dan kecepatan mental, perubahan suasana hati, dan kesulitan dalam aktivitas sehari-hari. Selain itu, ada tanda awal lain dari demensia yang dapat diketahui seseorang saat dirinya sedang mandi.

Baca Juga

Dikutip dari laman Mirror, Senin (25/12/2023), sebuah studi yang dilakukan oleh tim dari University of Chicago di Amerika Serikat mendalami tentang gejala ini. Gejala yang dimaksud adalah penurunan signifikan pada fungsi indra penciuman.

Itu karena ingatan memainkan peran penting dalam mengenali aroma. Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis indra penciuman 515 orang paruh baya. Tes penciuman yamg dikembangkan mirip dengan tes penglihatan dan pendengaran serupa.   

Tim peneliti berpendapat bahwa tes tersebut dapat berguna dalam mendorong masyarakat untuk mewaspadai potensi tanda-tanda peringatan demensia. Caranya, mencermati jika ada penurunan kemampuan mencium sampo dan sabun mandi saat mandi.

Penulis senior studi, Jayant M Pinto, mengatakan penelitian tersebut memberikan petunjuk baru tentang penurunan drastis indra penciuman sebagai indikator demensia. Pinto adalah profesor bedah di Universitas Chicago yang mempelajari penyakit penciuman dan sinus. Dia dan timnya menjumpai perubahan struktural di wilayah tertentu di otak peserta.

"Kami dapat menunjukkan bahwa volume dan bentuk materi abu-abu di area penciuman dan otak yang berhubungan dengan memori pada orang-orang dengan penurunan indra penciuman yang drastis lebih kecil dibandingkan dengan orang-orang yang penurunan fungsi indra penciumannya tidak terlalu parah," ucap Pinto.

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement