Jumat 18 Aug 2023 08:42 WIB

Remaja ‘Doyan’ Vape? Awas, Dampak Buruknya Bagi Pernapasan Lebih Mengerikan

Ada peningkatan risiko mengi dan sesak napas pada pengguna vape muda.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Vape (ilustrasi). Anak muda yang doyan vape lebih berisiko terkena mengi dan sesak napas.
Foto: www.freepik.com
Vape (ilustrasi). Anak muda yang doyan vape lebih berisiko terkena mengi dan sesak napas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sebuah penelitian melaporkan adanya peningkatan risiko gejala pernapasan, seperti mengi dan sesak napas pada para pengguna vape muda. Studi yang dilakukan para peneliti AS juga mengungkap peningkatan risiko bronkitis dan sesak napas pada remaja dan dewasa muda yang menggunakan vape, baik secara bersamaan mengisap rokok tembakau maupun ganja.

Para peneliti dari beberapa universitas di Amerika melacak kesehatan pernapasan 2.097 siswa dengan usia rata-rata 17 tahun yang berpartisipasi dalam studi Kesehatan Anak California Selatan antara 2014 dan 2018. Anak-anak muda ini diminta mengisi kuesioner tentang penggunaan produk tembakau dan gejala pernapasan yang dialami pada 2014.

Baca Juga

Informasi lebih lanjut ditambahkan ke kuesioner, termasuk penggunaan ganja, selama gelombang survei yang berbeda pada 2015, 2017 dan 2018 untuk sebagian besar peserta. Di setiap kuesioner, mereka juga diminta untuk menunjukkan konsumsi rokok dan vape selama 30 hari terakhir.

Diterbitkan dalam jurnal medis, Thorax, peneliti mencatat bahwa 476 di antara para peserta melaporkan riwayat asma pada gelombang pertama survei. Gejala yang dilaporkan termasuk mengi dan sesak napas, yang prevalensinya bervariasi dari satu gelombang ke gelombang lainnya dalam survei. Gejala yang berhubungan dengan bronkitis termasuk yang paling sering disebutkan di setiap gelombang, mulai dari 19,5 persen pada tahun 2014 hingga 26 persen pada tahun 2018.

 

Sementara itu, penggunaan rokok elektrik meningkat dari hampir 12 persen pada tahun 2014 dan 2015 menjadi lebih dari 15,5 persen pada tahun 2018. Para peneliti melaporkan risiko mengi 81 persen lebih tinggi di antara pengguna e-rokok daripada mereka yang tidak menggunakan vape.

Hal yang sama juga berlaku untuk gejala yang berkaitan dengan bronkitis (dua kali lipat risiko) dan sesak napas (risiko 78 persen lebih tinggi). Selain menyesuaikan usia, jenis kelamin, dan asal, para peneliti juga memperhitungkan konsumsi rokok dan ganja secara bersamaan, serta perokok pasif.

Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan, paling tidak karena bersifat observasional dan tidak dapat membangun hubungan sebab-akibat langsung antara vaping dan gejala pernapasan. Temuan ini juga didasarkan pada kuesioner laporan diri dan evaluasi diri. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan awal ini, meskipun para peneliti sekarang menyerukan agar dampak produk vaping terhadap kesehatan pernapasan dipantau dan dipertimbangkan oleh otoritas terkait.

"Studi ini berkontribusi menyajikan bukti bahwa rokok elektrik menyebabkan gejala pernapasan yang perlu dipertimbangkan dalam regulasi rokok elektrik. Dari hasil temuan ini diharapkan tidak ada yang meremehkan efek kesehatan dari penggunaan rokok elektrik, ganja, dan produk tembakau pada remaja dan dewasa muda," para peneliti seperti dilansir Malay Mail, Kamis (17/8/2023).

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement