Sabtu 12 Aug 2023 00:14 WIB

Peneliti: Operasi Usus Buntu Sudah tidak Perlu, Antibiotik Bisa Jadi Solusi

Sakit perut yang menjalar ke sisi kanan bawah merupakan gejala usus buntu.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Reiny Dwinanda
Sakit perut kanan bawah merupakan gejala usus buntu,
Foto: Musiron/Republika
Sakit perut kanan bawah merupakan gejala usus buntu,

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama ini diketahui bahwa untuk mengobati usus buntu diperlukan prosedur operasi. Namun, sekarang para ahli memperkirakan prosedur itu bisa tidak diperlukan lagi.

Pengangkatan usus buntu secara cepat telah menjadi pengobatan standar dokter selama lebih dari satu abad. Tetapi kali ini para peneliti di Karolinska Institutet, Swedia berpendapat bahwa dokter bisa mengandalkan antibiotik tanpa operasi.

Baca Juga

Temuan ini muncul di tengah dorongan untuk mengurangi biaya rawat inap Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) dan jumlah prosedur yang tidak perlu dilakukan. Menulis di jurnal JAMA, tim peneliti mengatakan temuan ini akan lebih bermanfaat bagi dokter serta pasien dalam membuat keputusan pengobatan.

Para ahli menganalisis dua percobaan terpisah, yang menilai hasil dari 292 pasien yang dirawat di rumah sakit karena radang usus buntu. Kondisi yang menyebabkan sakit perut yang menjalar ke sisi kanan bawah ini bisa mengancam jiwa tanpa penanganan yang cepat.

 

 

"Sebanyak 40 penderita dibagi menjadi dua kelompok sebagai bagian dari studi pertama. Setengahnya menerima operasi usus buntu," kata peneliti, dikutip dari Daily Mail, Jumat (11/8/2023).

Yang lain mendapat antibiotik selama 10 hari, dengan semua kecuali satu sembuh dengan sukses. Sementara itu, tingkat keberhasilan mencapai 86 persen pada studi kedua yang lebih besar.

Ketika hasil dari kedua studi dikumpulkan, terungkap bahwa 40 persen pasien yang diobati dengan antibiotik kemudian memerlukan operasi usus buntu. Para peneliti menulis lebih dari separuh pasien yang dirawat tanpa operasi tidak mengalami kekambuhan dan menghindari operasi selama kira-kira dua dekade.

 

"Tidak ada bukti untuk risiko jangka panjang dari manajemen nonoperatif selain dari kekambuhan usus buntu," tulis peneliti.

 

Namun, mereka mencatat standar diagnostik operasi pada saat itu berbeda dengan hari ini. Petugas medis melakukan 'tingkat pencitraan yang jauh lebih tinggi' sekarang, yang berarti lebih sedikit pasien yang salah didiagnosis dengan radang usus buntu.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement