Selasa 06 Jun 2023 16:25 WIB

Pil AstraZeneca Tampak Manjur Tekan Angka Kasus Kematian Akibat Kanker Paru

Obat kanker paru bernama osimertinib itu dijual dengan merek Tagrisso.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda
Foto rontgen paru (Ilustrasi). Osimertinib bekerja dengan menargetkan reseptor spesifik yang membantu pertumbuhan sel kanker paru.
Foto: Antara
Foto rontgen paru (Ilustrasi). Osimertinib bekerja dengan menargetkan reseptor spesifik yang membantu pertumbuhan sel kanker paru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah uji coba klinis berskala besar membuktikan bahwa pil bernama Tagrisso buatan AstraZeneca efektif memangkas kasus kematian akibat kanker paru-paru. Obat itu diberikan kepada pasien yang mengidap kanker paru stadium awal.

Mereka diminta mengonsumsi satu pil Tagrisso setiap hari selama tiga tahun. Hasilnya, risiko kematian akibat penyakit tersebut turun 51 persen.

Baca Juga

Setengah kematian di antara pasien kanker paru-paru stadium awal yang telah menjalani operasi bisa dicegah. Dikutip dari laman NBC News, Selasa (6/6/2023), temuan uji coba telah dipresentasikan di pertemuan tahunan American Society of Clinical Oncology di Chicago, Amerika Serikat, pada Ahad (4/6/2023).

Secara bersamaan, hasil studi juga sudah diterbitkan di New England Journal of Medicine. Data itu adalah yang pertama menunjukkan bahwa pengobatan yang ditargetkan untuk kanker paru-paru stadium awal berdampak pada kelangsungan hidup.

 

Penyelidik utama dan wakil direktur percobaan di Yale Cancer Center, Roy Herbst, menjelaskan bahwa obat yang disebut osimertinib itu dijual dengan merek Tagrisso. Obat ditujukan pada reseptor spesifik yang membantu pertumbuhan sel kanker.

"Saya yakin kami telah membantu kesembuhan beberapa pasien. Kami benar-benar menunjukkan kemajuan dalam pengobatan kanker paru-paru, tidak seperti sebelumnya," kata Herbst.

Menurut Herbst dan tim peneliti, hasil uji coba itu dua kali lebih baik dari yang diharapkan. Studi yang didanai oleh AstraZeneca itu melibatkan 682 pasien kanker paru-paru dari lebih dari 20 negara di Amerika Serikat, Eropa, Amerika Selatan, Asia, dan Timur Tengah.

Setengah dari peserta diberi pil Tagrisso setiap hari selama tiga tahun, sementara separuh lainnya menerima plasebo. Lima tahun setelah diagnosis, 88 persen dari peserta yang meminum pil masih hidup, dibandingkan dengan 78 persen dari kelompok plasebo.

Tagrisso sudah disetujui di lebih dari 100 negara, termasuk oleh Food and Drug Administration di AS yang menyetujui obat tersebut. Pada 2015, Tagrisso diperuntukkan bagi orang dengan kanker paru-paru stadium lanjut yang melihat penyakit mereka memburuk selama atau setelah menjalani perawatan lain. Kemudian, pada 2020, agensi menyetujui Tagrisso untuk versi awal penyakit tersebut.

Tim peneliti Herbst menunjukkan tiga tahun lalu bahwa Tagrisso mencegah tumor kembali dan mencegah kanker menyebar ke otak, hati, dan tulang. Peneliti sudah mengetahui bahwa obat tersebut efektif, namun baru mengetahui obat bisa menambah usia harapan hidup pasien.

Pasien kanker paru-paru kerap mengalami mutasi pada reseptor yang disebut EGFR. Reseptor biasanya membantu sel tumbuh, tetapi mutasi membuat sel membelah dan berkembang biak secara berlebihan, yang dapat menyebabkan kanker.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement