REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai dikembangkan dalam layanan kesehatan gigi.Salah satunya untuk membantu melakukan analisis awal terhadap kondisi gigi dan memberikan gambaran mengenai kebutuhan perawatan.
Teknologi tersebut antara lain diperkenalkan melalui FDC Tooth Analyzer, perangkat berbasis AI yang digunakan untuk membantu menganalisis kondisi gigi pasien. Hasil analisis kemudian menjadi informasi pendukung bagi pasien dan dokter sebelum menentukan langkah perawatan.
Founder & CEO FDC Dental Clinic, drg Ita Lestari, MARS, mengatakan pemanfaatan teknologi dalam layanan kesehatan gigi diarahkan untuk membantu masyarakat lebih mudah mengenali kondisi kesehatan giginya. “Teknologi memiliki nilai kebermanfaatan ketika membuat pengalaman pasien menjadi lebih mudah, cepat dan informatif,” kata Ita, dikutip Senin (5/10/2026).
Menurut dia, teknologi AI dapat membantu memperpendek jarak antara masyarakat dan informasi mengenai kondisi kesehatan gigi. Namun, hasil analisis teknologi tersebut bukan merupakan diagnosis medis.
Diagnosis, keputusan medis, serta rekomendasi perawatan tetap dilakukan oleh dokter gigi berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan klinis. Dalam kegiatan media gathering, wartawan berkesempatan mencoba simulasi pemeriksaan menggunakan FDC Tooth Analyzer. Proses dilanjutkan dengan konsultasi mengenai hasil analisis bersama dokter gigi.
Pemanfaatan AI dalam layanan kesehatan gigi dinilai dapat mendukung pendekatan yang lebih preventif. Dengan memperoleh gambaran awal mengenai kondisi gigi, pasien diharapkan dapat lebih cepat mengetahui adanya persoalan yang perlu diperiksa lebih lanjut oleh tenaga medis.
Teknologi tersebut juga digunakan untuk mendukung layanan bergerak melalui FDC Smile Bus. Armada layanan kesehatan gigi itu dilengkapi dental chair dan sejumlah perangkat medis sehingga pemeriksaan dan layanan tertentu dapat dilakukan di luar jaringan klinik.
Ita mengatakan Smile Bus tidak ditujukan untuk menggantikan fungsi klinik. Layanan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperluas akses masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan gigi sekaligus menghubungkan pasien dengan layanan lanjutan apabila diperlukan.
“Smile Bus bukan dimaksudkan untuk menggantikan klinik. Model ini menjadi perpanjangan akses yang membawa layanan lebih dekat kepada masyarakat dan, ketika dibutuhkan, menghubungkannya dengan pelayanan lanjutan oleh dokter dan jaringan klinik FDC,” ujarnya.
Ita mengatakan model layanan seperti Smile Bus masih memiliki ruang pengembangan, terutama untuk menjangkau lingkungan perusahaan, komunitas, institusi pendidikan, maupun kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan gigi. Dalam pengembangannya, layanan kesehatan gigi mulai menggabungkan pemeriksaan langsung oleh tenaga medis dengan teknologi digital dan layanan bergerak. Kombinasi tersebut diharapkan dapat mendukung upaya meningkatkan akses sekaligus mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan gigi secara lebih dini.