REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kulit kemerahan, kering, terasa perih, panas, gatal, hingga mengalami breakout kerap dianggap sebagai masalah yang muncul secara tiba-tiba. Padahal, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan berbagai faktor yang memengaruhi kulit sehari-hari. Kesadaran untuk mengenali sinyal dan pemicu masalah kulit pun menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.
Studi yang dipublikasikan dalam Acta Dermato-Venereologica menyebutkan bahwa kulit reaktif bukan lagi kondisi yang jarang ditemukan. Dalam studi tersebut, satu dari dua orang dilaporkan memiliki kulit reaktif.
Kondisi kulit reaktif dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari paparan sinar ultraviolet, perubahan suhu, polusi, penggunaan kosmetik atau produk perawatan tertentu, hingga stres dan perubahan hormonal. Kurang tidur dan pola hidup sehari-hari juga dapat ikut memengaruhi kondisi kulit.
Karena itu, mengenali kondisi kulit tidak cukup hanya dengan melihat apakah kulit tergolong kering, berminyak, atau kombinasi. Pemahaman mengenai skin signals atau sinyal yang diberikan kulit serta kemungkinan pemicunya dapat membantu menentukan perawatan yang lebih sesuai.
Dermatolog dr. Arlene Rainamira, Sp.DVE, mengatakan kondisi kulit sebaiknya tidak hanya dinilai dari apa yang tampak di permukaan. “Kulit tidak hanya dinilai dari apa yang terlihat di permukaan. Memahami sinyal kulit dilakukan secara lebih objektif. Kita dapat menelusuri kemungkinan pemicu kulit bermasalah dengan bantuan interpretasi asesmen dari dermatologist,” ujar Arlene, dikutip dari siaran pers, Ahad (27/9/2026).
Menurut dia, kondisi kulit yang terlihat serupa belum tentu memiliki pemicu maupun kebutuhan pemulihan yang sama. Karena itu, pemahaman terhadap konteks masing-masing individu menjadi penting sebelum menentukan langkah perawatan.
Kesadaran tersebut juga berkaitan dengan konsep skin barrier dan skin immunity, yakni kemampuan pertahanan alami kulit dalam menghadapi berbagai tekanan dari lingkungan maupun faktor internal. Ketika fungsi perlindungan kulit terganggu, kulit dapat menjadi lebih mudah mengalami iritasi, inflamasi, breakout, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
Pendekatan terhadap kesehatan kulit dalam jangka panjang kemudian berkembang melalui konsep skin longevity. Fokusnya bukan hanya memperbaiki masalah yang sudah terlihat, tetapi juga mempertahankan kemampuan kulit untuk pulih, beradaptasi, dan menjaga fungsi perlindungannya.
Untuk membantu masyarakat memahami pendekatan tersebut, Wardah menghadirkan Wardah Derma Longevity Lab di Main Atrium Pondok Indah Mall 2, Jakarta, pada 24–27 September 2026. Dalam kegiatan tersebut, konsumen dapat memperoleh asesmen menggunakan Advanced Personalized Skin Analyzer (AI-PSA). Hasil analisis kondisi kulit kemudian dipadukan dengan sejumlah informasi mengenai gaya hidup dan dirangkum dalam Skin ID Blueprint.
Asesmen tersebut mempertimbangkan enam aspek gaya hidup, yakni tidur, stres, nutrisi, kesehatan usus, aktivitas fisik, serta paparan sehari-hari. Tujuannya membantu konsumen melihat kemungkinan hubungan antara kebiasaan sehari-hari dengan berbagai sinyal pada kulit.
Selain AI-PSA, tersedia pula pemeriksaan pendukung seperti dermascope, temperature provocation test, dryness test, dan Dino-Lite. Pemeriksaan tertentu dilakukan secara selektif sesuai kondisi dan riwayat individu. Head of Wardah Skincare Arum Pratiwi mengatakan pemahaman terhadap kulit diharapkan tidak berhenti pada pengenalan tipe kulit.
“Bukan hanya berhenti pada ‘apa tipe kulit’, tetapi membantu konsumen memahami sinyal yang diberikan kulitnya, mengenali kemungkinan pola yang memengaruhinya, dan mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika kondisi tersebut kembali muncul,” kata Arum.
Dengan semakin banyaknya faktor yang dapat memengaruhi kondisi kulit, skin awareness menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan kulit secara berkelanjutan. Mengenali perubahan sejak awal, memahami kemungkinan pemicunya, serta menyesuaikan perawatan dengan kondisi kulit dapat menjadi langkah untuk menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.
Global Paragon Wardah Researcher sekaligus Scientific Expert Segolene mengatakan pendekatan terhadap perawatan kulit mulai bergeser dari sekadar memperbaiki masalah yang terlihat. Katanya, masa depan perawatan kulit bukan semata memperbaiki tampilan tapi menguatkan kemampuan kulit untuk kembali sehat sekaligus beradaptasi.
Wardah Derma Longevity Lab juga menghadirkan Science Gallery yang memberikan edukasi mengenai hubungan antara kondisi kulit dan berbagai faktor gaya hidup. Pengunjung dapat melanjutkan dengan asesmen dan konsultasi sebelum mencoba produk yang relevan dengan kebutuhan kulit.