Jumat 11 Sep 2026 14:00 WIB

Siswa SD Belajar Kenali Emosi Lewat Wellbeing Kit

Kemampuan mengenali emosi menjadi dasar ketangguhan mental anak.

Tim Ubhara Jaya memberikan pelatihan pengelolaan emosi kepada guru dan siswa sekolah dasar di Cimahi.
Foto: Ubhara
Tim Ubhara Jaya memberikan pelatihan pengelolaan emosi kepada guru dan siswa sekolah dasar di Cimahi.

REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI – Siswa sekolah dasar di Kota Cimahi mendapatkan pendampingan untuk mengenali dan mengelola emosi melalui program Deep-Health Literacy: Penguatan Resiliensi dan Kesejahteraan Siswa. Program yang dijalankan tim peneliti dan pengabdian kepada masyarakat Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) tersebut menyasar guru dan siswa di lima sekolah dasar dalam lingkungan KKG Gugus Tirto Adhi Suryo.

Program dipimpin Faridatul A’la bersama Dian Anggraeni Maharbid dan Ditta Febrieta, dengan pendampingan mahasiswa Rifqah Nur Alvisyahri dan Michelle Miranda.

Baca Juga

Kegiatan diawali dengan workshop pendekatan pedagogi 6C, yaitu Character, Citizenship, Collaboration, Communication, Creativity, dan Critical Thinking, serta pelatihan manajemen emosi bagi guru. Pelatihan menggunakan pendekatan andragogi untuk membekali guru dalam membantu siswa mengelola emosi di lingkungan kelas.

Ketua Tim Pengusul Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Ubhara Jaya Faridatul A’la mengatakan kemampuan mengenali emosi menjadi salah satu aspek penting dalam membangun resiliensi anak.

“Selama ini penanganan masalah ledakan emosi atau konflik antar siswa di kelas sering kali sebatas teguran verbal dari guru,” kata Faridatul dalam siaran pers, Jumat (11/9/2026).

Program tersebut menggunakan Wellbeing Kit yang terdiri atas Kartu Emosi “Ning” dan Jurnal Refleksi “Among”. Perangkat tersebut menggunakan prinsip Terapi Kognitif Perilaku (CBT) dengan materi yang disesuaikan untuk anak.

Kartu Emosi “Ning”, yang merupakan singkatan dari Hening dan Bening, menggunakan visual metaforis untuk membantu siswa mengenali emosi seperti cemas, sedih, dan marah. Kartu tersebut juga dilengkapi panduan “P3K Emosi” untuk membantu siswa merespons kondisi emosional secara mandiri.

Sementara itu, Jurnal Refleksi “Among”, singkatan dari Anak Mandiri, Optimis, dan Tangguh, digunakan untuk membantu siswa melakukan refleksi secara berkala terhadap pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi.

Ketua KKG Gugus Tirto Adhi Suryo Kamaludin Gumilar mengatakan perangkat tersebut dapat membantu guru menangani persoalan kesejahteraan psikologis siswa dalam kegiatan pembelajaran.

“Program Deep-Health Literacy dan perangkat Wellbeing Kit ini hadir di waktu yang sangat tepat,” ujar Kamaludin.

Kepala SDN Utama 6 Parida Daniati mengatakan pelatihan memberikan tambahan pemahaman bagi guru mengenai pendampingan siswa. Sekolah juga berencana menggunakan perangkat tersebut dalam kegiatan pembiasaan pagi dan jam perwalian.

“Jurnal Among memberikan medium bagi siswa untuk melakukan ‘meaning-making’ (pencarian makna) atas masalah yang mereka hadapi,” tegas Parida.

Setelah pelatihan, program memasuki tahap implementasi dan pengamatan di kelas. Tim Ubhara Jaya bersama mahasiswa pendamping melakukan pemantauan menggunakan Fidelity Checklist untuk melihat penerapan program dalam kegiatan pembelajaran.

Program pengabdian kepada masyarakat tersebut memperoleh pendanaan melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun 2026 dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM). Pelaksanaannya juga difasilitasi Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Publikasi (LPPMP) Ubhara Jaya.

Berita Lainnya

Rekomendasi