REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus kekerasan orang tua terhadap anak hingga kini masih menjadi persoalan serius. Mirisnya, tak sedikit dari orang tua yang berdalih melakukan kekerasan demi mendisiplinkan anak.
Pakar psikologi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Novia Fetri Aliza, mengatakan disiplin dan kekerasan merupakan dua hal yang sangat berbeda, baik dari segi prinsip maupun tujuan. Disiplin bertujuan membentuk perilaku anak secara konstruktif, sedangkan kekerasan kerap menjadi pelampiasan emosi negatif orang tua.
Dampak kekerasan terhadap anak tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga memengaruhi perkembangan emosional dan mental, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang abusif berisiko tidak mampu mengaktualisasikan potensi optimal yang dimilikinya, termasuk kemampuan kognitif dan sosial.
"Efeknya cukup mengkhawatirkan. Misalnya, seorang anak yang terlahir cerdas seharusnya mampu berpikir kompleks. Namun, karena mengalami kekerasan, potensi kecerdasan itu tidak berkembang secara optimal. Tekanan yang terus-menerus memicu respons hormon stres yang dapat mengganggu kemampuan berpikir," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (3/3/2026).
Dia mengatakan faktor utama kekerasan pada anak sering kali berkaitan dengan rendahnya keterampilan regulasi emosi. Menurutnya, tekanan hidup memang dapat menjadi pemicu, tetapi bukan akar persoalan yang paling dominan.