Sabtu 23 May 2026 08:00 WIB

Ancaman Obesitas dan Solusi Bedah Bariatrik-Metabolik

Bedah bariatrik masih belum dapat dukungan pembiayaan dari asuransi maupun BPJS.

Bedah bariatrik-metabolik bisa menjadi solusi jangka panjang masalah obesitas.
Foto: Republika
Bedah bariatrik-metabolik bisa menjadi solusi jangka panjang masalah obesitas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Obesitas kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai persoalan gaya hidup. Obesitas juga menjadi penyakit kronis yang dapat memicu berbagai komplikasi serius seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan tidur, hingga penurunan kualitas hidup.

Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif Konsultan, Dr. dr. Errawan Wiradisuria, Sp.B, KBD, M.Kes menjelaskan, berbagai organisasi kesehatan dunia seperti American Medical Association dan Canadian Medical Association telah mengategorikan obesitas sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan. Namun di Indonesia, obesitas masih sering dianggap hanya sebagai masalah pola hidup.

Baca Juga

Menurut Errawan, salah satu solusi mengatasi obesitas adalah melakukan bedah bariatrik–metabolik, yang merupakan prosedur membantu penurunan berat badan sekaligus memperbaiki gangguan metabolisme tubuh, seperti diabetes dan hipertensi. Analisis itu disampaikannya dalam edukasi bertajuk "Mengenal Bedah Bariatrik-Metabolik untuk Obesitas"yang diadakan RS Premier Bintaro.

"Dibandingkan metode konservatif seperti diet, olahraga, dan obat-obatan, tindakan ini memberikan hasil jangka panjang yang lebih efektif pada kasus obesitas berat," katanya dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Errawan menjelaskan, beberapa manfaat utama dari pembedahan bariatrik, antara lain penurunan berat badan yang signifikan dan bertahan lama, perbaikan kualitas hidup pasien, penurunan risiko penyakit penyerta, serta perbaikan kondisi diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi. Adapun pasien yang dapat menjadi kandidat operasi adalah individu dengan BMI di atas 35.

Bisa juga BMI di atas 30 dengan penyakit penyerta berisiko tinggi terkait obesitas. "Selain itu, pasien juga harus memiliki komitmen menjalani perubahan pola hidup sehat dan kontrol kesehatan jangka panjang," ucap Errawan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement