REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi baru berskala besar di Amerika Serikat menemukan bahwa kadar fluoride yang digunakan dalam air minum pada tingkat umum tidak memiliki hubungan dengan penurunan IQ pada remaja maupun kemampuan kognitif saat dewasa. Studi ini dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Science
Para peneliti menganalisis 10.317 individu yang lulus dari sekolah menengah di Wisconsin pada 1957. Paparan fluoride mereka saat masa remaja hingga usia 14 tahun diperkirakan berdasarkan lokasi tempat tinggal.
Para peneliti kemudian membandingkan data tersebut dengan hasil IQ remaja yang diperoleh dari tes di sekolah menengah, serta kemampuan kognitif yang diukur pada masa dewasa melalui empat kali pengujian menggunakan tes standar sesuai usia. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam performa IQ atau kognisi antara mereka yang terpapar fluoridasi air komunitas saat remaja dan mereka yang tidak terpapar, baik pada masa remaja maupun pada pengukuran di usia dewasa.
Fluoride dalam air minum telah lama menjadi topik perdebatan. Kelompok kritis menilai zat ini dapat berdampak negatif pada kesehatan anak, terutama perkembangan otak. Perdebatan ini bahkan berdampak pada kebijakan di beberapa wilayah, dengan Florida dan Utah disebut telah melarang fluoride dalam air minum, sementara sedikitnya 20 negara bagian lain di AS mengajukan rancangan undang-undang serupa.
Namun, sebagian besar penelitian yang menemukan hubungan antara paparan fluoride dan penurunan IQ mencakup peserta yang terpapar dosis fluoride dalam jumlah besar. "Kandungan fluoride di air minum masih dalam batas aman dan tidak terkait dengan IQ seseorang. Fluoride dalam dosis tinggi memang berbahaya, tapi di air minum publik masih masih sesuai batas aman," kata peneliti utama dari University of Minnesota, Robert Warren, seperti dilansir laman Today, Kamis (16/4/2026).