Ahad 10 Mar 2024 09:45 WIB

4 Penyakit Mematikan yang Tadinya 'Tinggal Sejarah' Telah Muncul Kembali, Apa Gejalanya?

Beberapa penyakit yang sudah lama tak ditemukan kasusnya muncul kembali pada 2024.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Reiny Dwinanda
Anak sakit (ilustrasi). Penyakit-penyakit yang sudah lama tak ditemukan kasusnya kembali muncul pada 2024.
Foto: www.pixabay.com
Anak sakit (ilustrasi). Penyakit-penyakit yang sudah lama tak ditemukan kasusnya kembali muncul pada 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hanya dua bulan setelah memasuki tahun 2024, dunia dihantui oleh wabah beberapa penyakit mematikan yang membuat banyak orang khawatir. Beberapa penyakit yang sebelumnya dianggap "tinggal sejarah" kini kembali muncul.

Penyakit campak kembali melanda dunia, diikuti oleh batuk rejan yang telah lama dianggap reda berkat adanya vaksinasi. Selain itu, kekurangan vaksin kolera menjadi masalah global, sementara kasus penyakit pes membuat cemas di Amerika Serikat.

Baca Juga

"Di negara-negara Barat, kita cenderung menganggap penyakit-penyakit ini sudah hilang," kata direktur The Pandemic Institute, Profesor Tom Solomon, dilansir The Sun, Ahad (10/3/2024).

Namun, Solomon mengatakan penyakit-penyakit itu tidak hilang sama sekali. Selama ini, penyakit itu hanya "dikendalikan" oleh langkah-langkah kesehatan masyarakat yang baik.

Berikut adalah beberapa penyakit mematikan yang kembali muncul pada 2024:

1. Campak

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), wabah campak telah meningkat lebih dari 3.000 persen di Eropa pada tahun lalu. WHO menyebut lebih dari 30 ribu infeksi dilaporkan hanya dalam satu tahun.

Lonjakan ini disebabkan oleh menurunnya cakupan vaksinasi di beberapa negara Eropa. Di Inggris, setidaknya 650 orang telah terinfeksi campak sejak Oktober.

Gejala campak:

- Suhu tinggi

- Hidung meler atau tersumbat

- Bersin

- Batuk

- Mata merah, perih, berair

- Bintik-bintik kecil berwarna putih keabu-abuan di bagian dalam pipi

- Ruam bercak merah kecokelatan

"Penyakit ini sepenuhnya dapat dicegah dengan vaksinasi. Kita harus melakukan segala yang kita bisa untuk memvaksinasi masyarakat," ujar Solomon.

2. Batuk rejan

Pada awal tahun 2024, kasus batuk rejan mencapai tingkat tertinggi dalam 10 tahun terakhir di Inggris dan Wales. Pertusis, bakteri penyebab batuk rejan, telah menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi bayi yang lebih rentan terhadap penyakit ini. Lebih dari 400 warga Inggris terinfeksi, yang menandakan penurunan penggunaan vaksin sebagai penyebab utama.

Gejala batuk rejan:

- Batuk yang keras dan cepat, hingga seluruh udara keluar dari paru-paru dan seseorang terpaksa menarik napas, sehingga menimbulkan bunyi suara tarikan napas yang khas dan berkepanjangan.

- Bersin

- Keluarnya cairan dari hidung

- Demam

- Mata perih dan berair

- Bibir, lidah, dan dasar kuku bisa membiru saat batuk

"Setiap wabah di antara populasi rentan dapat menyebabkan rawat inap dan kematian, ini kejadian yang bisa dicegah. Karena itu, perlindungan dari vaksin adalah pendekatan terbaik," kata peneliti senior di bidang kesehatan global di University of Southampton, dr Michael Head.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement