Ahad 18 Feb 2024 18:20 WIB

Deteksi Dini Penyakit Jantung Bisa Cegah Dampak Lanjutan Kasus Jantung Katup

Lebih dari 40 persen kasus jantung katup di RS Harapan Kita disebabkan oleh PJR.

Rep: Antara/ Red: Qommarria Rostanti
Penyakit jantung (ilustrasi). Deteksi dini terhadap kasus penyakit jantung yang belum bergejala dapat mencegah dampak lanjutan penyakit jantung katup.
Foto: www.freepik.com.
Penyakit jantung (ilustrasi). Deteksi dini terhadap kasus penyakit jantung yang belum bergejala dapat mencegah dampak lanjutan penyakit jantung katup.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Deteksi dini terhadap kasus penyakit jantung yang belum bergejala dapat mencegah dampak lanjutan penyakit jantung katup. Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Amiliana Mardiani Soesanto.

Dia menyebut, berdasarkan data yang dihimpun, terdapat lebih dari 40 persen kasus jantung katup di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, disebabkan oleh Penyakit Jantung Rematik (PJR), hampir 30 persen akibat proses degeneratif pada pasien yang lebih tua. "Khusus untuk penanggulangan PJR, masyarakat dan komunitas kesehatan perlu melakukan tindakan promotif, preventif, edukasi, dan deteksi dini," kata Amilia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Ahad (18/2/2024).

Baca Juga

Amilia menjelaskan PJR yang merupakan gejala sisa dari Demam Rematik Akut (DRA) pada masa kanak-kanak berdampak pada usia dewasa muda, terutama pada perempuan, yang dapat menyebabkan berkurangnya individu produktif yang sehat dan timbulnya masalah maternal. Selain itu ia menyebutkan kedua jenis penyakit jantung katup pada dua kelompok usia yang berbeda menyebabkan beban ganda bagi masyarakat dan negara.

"Perbaikan atau penggantian katup secara intervensi bedah maupun non-bedah menyebabkan biaya yang ditanggung negara menjadi sangat tinggi. Pada pasien usia lanjut, risiko tindakan dan keuntungan klinis harus dipertimbangkan, mengingat tingginya risiko pembedahan," ujarnya.

 

Hal tersebut, kata dia, disebabkan oleh rekomendasi internasional dalam melakukan intervensi transkateter sebagai alternatif pembedahan untuk mengatasi beberapa kelainan katup. Intervensi transkateter adalah prosedur non-bedah tanpa membuka dinding dada dan jantung yang berbiaya sangat tinggi.

Amilia mengatakan, PJR merupakan penyakit jantung katup yang berawal dari infeksi tenggorok oleh kuman Streptococcus beta hemolyticus grup A yang menimbulkan reaksi inflamasi dan autoimun. Menurutnya, hanya sekitar 1-3 persen kasus PJR yang akan menjadi DRA.

Ia menilai kedua penyakit tersebut ini bisa dicegah. Namun apabila pada pasien DRA tidak dilakukan pengobatan atau pencegahan sekunder yang adekuat, secara perlahan PJR bisa terjadi. "Pada akhirnya diperlukan suatu strategi yang melibatkan komponen masyarakat dan komunitas kesehatan, teknologi, dan ilmu kedokteran, serta pemerintah, untuk menjawab tantangan masalah penyakit (jantung) katup di Indonesia," ucap Amilia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement