Ahad 04 Jun 2023 18:40 WIB

Setelah Didiagnosis Diabetes, Pasien Perlu Ketahui Empat Kondisi Ini

Di Indonesia, pengidap diabetes banyak yang tidak terdiagnosis.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda
Alat pendeteksi kadar gula darah (ilustrasi). Di dunia, diprediksi ada 50 persen pengidap diabetes yang tidak terdiagnosis.
Foto: www.freepik.com
Alat pendeteksi kadar gula darah (ilustrasi). Di dunia, diprediksi ada 50 persen pengidap diabetes yang tidak terdiagnosis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mencari asal-muasal seseorang terkena diabetes bukan hal yang mudah. Gangguan kesehatan kronis (berlangsung menahun) yang memengaruhi cara tubuh mengubah makanan menjadi energi itu pun bisa diidap oleh siapa saja.

Tubuh pengidap diabetes tidak dapat memproduksi insulin dalam jumlah cukup atau tidak bisa menggunakannya sebagaimana mestinya. Sementara, insulin merupakan hormon yang berfungsi mengontrol kadar gula dalam darah.

Baca Juga

Profesor Sidartawan Soegondo menyampaikan bahwa pada 2021, tercatat ada 19,465 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes. Guru besar sekaligus dokter penyakit dalam-konsultan endokrin metabolik diabetes itu mengatakan, dari jumlah yang tercatat, 55 persen adalah laki-laki dan 45 persen perempuan.

"Di dunia, diprediksi ada 50 persen pengidap diabetes yang tidak terdiagnosis. Di Indonesia, jumlah yang tidak terdiagnosis diperkirakan 70 persen," kata Sidartawan dalam acara "Perempuan Bicara Diabetes" yang diselenggarakan oleh Diabetes Initiative Indonesia (DIID) di Prodia Tower, Jakarta Pusat, Ahad (4/6/2023).

Dengan jumlah pasien tercatat yang cukup besar, Sidartawan menyoroti bahwa dokter spesialis yang menangani diabetes hanya sekitar 140-an. Itu membuat penanganan diabetes menjadi tantangan besar dan bukan sesuatu yang mudah.

Apabila seseorang telah didiagnosis mengidap diabetes, hal yang paling terimbas antara lain jantung, pembuluh darah, serta ginjal dan liver. Karenanya, penanganan diabetes tidak cukup hanya mengendalikan kadar gula darah, tetapi juga memproteksi sejumlah organ itu.

Sebab, diabetes bisa mengarah pada komplikasi yang mengancam jiwa seperti gagal jantung, strok, hingga amputasi. Untuk mengurangi risiko kardiovaskular pada pasien diabetes tipe dua, kumpulan dokter jantung di Amerika Serikat telah menerapkan pedoman untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement