Jumat 19 May 2023 23:13 WIB

Sakit Kepala Parah Jadi Tanda Strok, Biasanya Muncul 7 Hari Sebelumnya

Sakit kepala sebelum strok bersifat parah atau berbeda dari sakit kepala sebelumnya.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Pasien strok (ilustrasi). Dalam beberapa situasi, mungkin ada tanda-tanda peringatan potensial sebelum strok terjadi seperti sakit kepala parah.
Foto: www.freepik.com
Pasien strok (ilustrasi). Dalam beberapa situasi, mungkin ada tanda-tanda peringatan potensial sebelum strok terjadi seperti sakit kepala parah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Strok terjadi ketika aliran darah ke bagian otak tersumbat atau terganggu. Sumbatan itu mencegah sel-sel otak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

Strok sering kali terjadi tanpa peringatan. Namun, dalam beberapa situasi, mungkin ada tanda-tanda peringatan potensial sebelum strok terjadi, seperti sakit kepala parah dan serangan iskemik transien (TIA atau transient ischemic attack).

Baca Juga

Meskipun sakit kepala tidak terjadi pada semua strok, jenis sakit kepala tertentu dapat menjadi indikator awal strok yang tertunda. Menurut sebuah penelitian tahun 2020 terhadap 550 orang dewasa, sakit kepala sentinel ditemukan mendahului strok iskemik pada 15 persen peserta penelitian.

Para penulis penelitian mencatat bahwa sakit kepala ini bersifat parah atau berbeda dari sakit kepala sebelumnya. Selain itu, sakit kepala ini dimulai dalam waktu tujuh hari setelah strok dan sering kali berlangsung hingga gejala strok muncul.

 

Peserta studi yang mengalami sakit kepala sentinel sebelum strok lebih mungkin mengalami fibrilasi atrium, sejenis aritmia, daripada peserta dalam kelompok kontrol yang tidak mengalami strok. Sakit kepala sentinel juga dianggap sebagai tanda pecahnya aneurisma yang akan datang. Sangat penting untuk menanggapi sakit kepala yang tidak biasa atau parah dengan serius karena dapat menjadi prediktor kejadian kesehatan yang lebih serius.

Tanda peringatan lain yang mungkin terjadi pada strok adalah TIA yang juga dikenal sebagai strok ringan. TIA terjadi ketika suplai darah ke bagian otak Anda terputus untuk waktu yang singkat.

Meskipun gejala TIA dapat menyerupai gejala strok, gejala tersebut biasanya menghilang dalam waktu satu jam dan jarang menyebabkan kerusakan permanen. Dalam beberapa kasus, gejala dapat bertahan hingga 24 jam.

Gejala TIA biasanya tidak berlangsung lama, tapi penting untuk mendapatkan pertolongan medis meskipun gejala telah hilang. Meskipun TIA biasanya sembuh dengan cepat, ini mungkin merupakan tanda bahwa strok yang lebih serius dapat terjadi di kemudian hari. Faktanya, diperkirakan sekitar sepertiga orang yang mengalami TIA akan mengalami strok yang lebih parah pada masa depan.

Sebuah penelitian terbaru menegaskan bahwa meskipun memiliki TIA dapat menjadi prekursor strok, jumlah orang yang mengalami strok akut dalam waktu 90 hari setelah TIA telah menurun dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dapat menjadi indikasi bahwa tindakan pencegahan TIA efektif untuk mencegah strok.

Dilansir dari Healthline, Jumat (19/5/2023), gejala TIA antara lain terjadi kelumpuhan atau kelemahan pada satu sisi tubuh, biasanya pada wajah, lengan atau tungkai; kesulitan berbicara atau memahami; kehilangan keseimbangan atau koordinasi, kesulitan berjalan; kesulitan melihat pada satu atau kedua mata; sakit kepala; serta pusing.

Mendapatkan evaluasi medis dalam waktu 60 menit dari awal gejala dapat membantu mengidentifikasi penyebab TIA. Hal itu dapat membantu untuk memastikan bahwa Anda mendapatkan jenis perawatan yang tepat yang dapat menurunkan risiko strok pada masa depan.

Menurut penelitian, hingga 80 persen strok setelah TIA dapat dicegah berdasarkan diagnosis dan pengobatan yang tepat waktu. Siapa pun dapat mengalami strok, tetapi ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko strok, termasuk tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, penyakit jantung, kebiasaan merokok, dan mereka yang berjenis kelamin pria.

Pria disebut lebih mungkin mengalami strok lebih dini daripada wanita. Namun, wanita cenderung hidup lebih lama daripada pria sehingga memiliki risiko strok seumur hidup yang lebih tinggi.

Faktor lain yang bisa meningkatkan risiko strok termasuk usia yang menua serta ras dan etnis tertentu. Di Amerika, strok lebih sering terjadi pada orang dewasa Afrika-Amerika, Indian-Amerika, penduduk asli Alaska, dan Hispanik (orang Amerika keturunan Amerika Latin) dibandingkan dengan orang dewasa kulit putih pada usia yang sama.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement