Kamis 20 Apr 2023 08:36 WIB

Gerhana Matahari Hibrida tak Boleh Dilihat Pakai Mata Telanjang, Ini Bahayanya

Jika ingin melihat gerhana matahari hibrida, gunakan filter khusus matahari.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti
 Gerhana matahari hibrida (ilustrasi). Warga diimbau tidak melihat gerhana matahari hibrida secara langsung karena membahayakan mata.
Foto: EPA-EFE/Jonas Ekstrˆmer/TT
Gerhana matahari hibrida (ilustrasi). Warga diimbau tidak melihat gerhana matahari hibrida secara langsung karena membahayakan mata.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat Indonesia bisa mengamati fenomena gerhana matahari hibrida pada Kamis (20/4/2023) sekitar pukul 10.00 WIB. Akan tetapi, masyarakat diimbau untuk tidak melihat ke arah matahari dengan mata telanjang, sebab bisa berbahaya untuk penglihatan.

Terkait bahayanya, Australian Radiation Protection and Nuclear Safety Agency (ARPANSA) memberikan penjelasan melalui situs www.arpansa.gov.au. Pada dasarnya, matahari sangat terang sehingga sulit dan sangat berbahaya untuk dilihat secara langsung.

Baca Juga

Menatap kuatnya cahaya matahari (meski hanya beberapa detik) dapat menyebabkan kerusakan permanen pada retina. Retina merupakan bagian mata yang bertanggung jawab langsung untuk penglihatan. Mengekspos mata ke matahari tanpa pelindung mata yang tepat selama gerhana matahari dapat menyebabkan luka bakar retina atau solar retinopathy.

Pasalnya, retina tidak memiliki kepekaan terhadap rasa sakit. Karena efek kerusakan retina mungkin tidak muncul selama berjam-jam, bisa jadi tidak ada tanda awal bahwa telah terjadi cedera pada mata. Lamanya waktu melihat matahari yang berpotensi menyebabkan kerusakan mata bervariasi pada tiap individu, tetapi rata-rata hanya dalam hitungan detik.

 

"Kerusakan bisa bersifat sementara atau permanen dan dapat menyebabkan gejala seperti kehilangan penglihatan, penglihatan terdistorsi, atau penglihatan warna yang berubah," ujar ARPANSA.

Saat terjadi gerhana matahari total, sebagian besar matahari tertutup sehingga masyarakat mungkin tergoda untuk melihatnya secara langsung. Ini sebaiknya tetap dihindari, sebab risiko kerusakan mata yang serius dan permanen dapat terjadi akibat melihat segala jenis gerhana matahari secara langsung.

Terlebih, tidak ada pengobatan untuk memulihkan penglihatan yang hilang. Anak-anak sangat berisiko, karena mata mereka cenderung mengirimkan lebih banyak cahaya ke retina daripada mata orang dewasa. Ini membuat mata anak-anak lebih rentan terhadap kerusakan akibat cahaya yang intens.

Lewat akun Instagram @planetariumjkt, Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ) juga telah memperingatkan mengenai hal itu. POJ membagikan cara mengamati gerhana matahari dengan aman, yakni menggunakan filter khusus matahari. Filter matahari bisa digunakan sebagai kacamata, atau pelapis di binokuler dan teleskop.

Jika tidak memiliki filter khusus matahari, bisa menggunakan metode proyeksi lubang jarum (pin hole). "Memandang langsung ke arah matahari dapat mengganggu kesehatan mata sampai pada level serius," kata POJ lewat unggahannya, Rabu (19/4/2023).

POJ menjelaskan pula mengenai fenomena gerhana matahari hibrida. Secara umum, gerhana matahari merupakan fenomena astronomi yang terjadi ketika bulan melintas di antara matahari dan bumi. Akibatnya, cahaya matahari terhalang sebagian atau seluruhnya oleh piringan bulan.

Gerhana matahari hibrida terjadi ketika dalam satu waktu fenomena gerhana, ada daerah yang mengalami gerhana matahari total dan ada daerah yang mengalami gerhana matahari cincin. Ini tergantung dari lokasi pengamat, dan terjadi akibat adanya kelengkungan bumi.

Pada Kamis (20/4/2023), POJ menggelar pengamatan gerhana matahari parsial di Plaza Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Tersedia 13 teleskop yang telah dipasangi filter matahari dan 1.600 kacamata matahari. Ada pula aktivitas gelar wicara dan diskusi, nonton bareng peliputan gerhana matahari total, serta sholat gerhana di Masjid Amir Hamzah TIM.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mewanti-wanti bahwa kacamata hitam tidak boleh menjadi pengganti kacamata gerhana. Betapa pun gelapnya, kacamata hitam tidak aman untuk melihat matahari. Kacamata matahari yang aman ribuan kali lebih gelap dan harus mematuhi standar internasional ISO 12312-2.

Dikutip dari laman Nasa.gov, selalu periksa kacamata gerhana sebelum digunakan. Apabila sobek, tergores, atau rusak, segera buang perangkat dan ganti dengan kacamata gerhana dengan kondisi baik. Selalu awasi anak-anak saat menggunakannya untuk mengamati gerhana matahari.

Selain itu, tidak disarankan melihat matahari melalui lensa kamera, teleskop, teropong, atau perangkat optik lainnya saat sedang mengenakan kacamata gerhana. Sinar matahari yang terkonsentrasi bisa menembus filter dan menyebabkan cedera mata serius.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement