Sabtu 22 Apr 2023 11:16 WIB

Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme Lazim Miliki Bakat Terpendam

Bakat pada anak autisme bisa menjadi keahlian jika diarahkan dengan baik.

Sejumlah anak-anak penyandang autisme menampilkan bakat pada kegiatan Autism Awareness oleh Kampusnya Manusia di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (28/5/2022). Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai momentum membangkitkan semangat para penyandang autisme untuk terus berkarya.
Foto: ANTARA/Fakhri Hermansyah
Sejumlah anak-anak penyandang autisme menampilkan bakat pada kegiatan Autism Awareness oleh Kampusnya Manusia di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (28/5/2022). Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai momentum membangkitkan semangat para penyandang autisme untuk terus berkarya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog Vitriani Sumarlis, M.Psi. mengatakan anak dengan gangguan spektrum autisme memiliki bakat terpendam yang bisa dikembangkan. "Anak dengan gangguan spektrum autisme memiliki bakat terpendam, seperti menggambar dan ingatan yang kuat yang bisa dikembangkan," kata Vitriani dalam diskusi mengenai cara mengenali gangguan autisme pada seseorang yang diikuti secara daring, beberapa waktu lalu.

Vitriani menambahkan jika terdapat minat berlebihan pada anak dengan gangguan spektrum autis dalam bidang tertentu, maka minat tersebut bisa menjadi keahlian anak jika diarahkan dengan baik.

Baca Juga

Gangguan spektrum autisme adalah gangguan perkembangan pervasif (mendalam) yang memiliki karakteristik berupa kesulitan dalam komunikasi sosial dengan perilaku, minat, aktivitas yang terbatas, dan pola yang repetitif (berulang). Gangguan ini memiliki gejala seperti gerakan tangan yang diulang-ulang tanpa tujuan tertentu, memakai objek tanpa tujuan tertentu, dan cara bicara diulang-ulang tanpa ada makna tertentu.

"Dengan demikian interaksi berulang-ulang yang dilakukan bisa dilatih untuk menjadi sesuatu yang bermakna dan menjadi keahlian sang anak," kata dia.

Setelah mengembangkan apa yang anak suka, kemudian orang tua bisa mengembangkan faktor yang belum berkembang dengan baik. Misalnya dengan tes potensi intelegensi serta melihat fungsi kognitif yang masih menjadi kelemahannya, tambah dia.

Dia mengatakan komunikasi berkala dengan guru dan terapis harus dilakukan orang tua untuk mengevaluasi perkembangan sang anak. Orang tua juga harus membuka diri dalam penanganan anak yang memiliki gangguan spektrum autisme.

"Biasanya orang tua merasa sendiri dan tidak nyaman dalam menangani anak berkebutuhan khusus, maka tidak ada salahnya gabung komunitas supaya ada support group," imbuhnya.

Selain itu, orang tua juga harus memiliki tujuan yang realistis. Wajar jika khawatir ketika anak belum bisa bersosialisasi, namun tetap harus memperhatikan konteks kemampuan sang anak agar tidak membebani anak dan orang tuanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement