Selasa 07 Mar 2023 12:00 WIB

Studi Ungkap Diet Keto Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Jantung Hingga Dua Kali Lipat

Diet keto termasuk pola makan yang populer belakangan ini.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda
Kombinasi telur dan alpukat merupakan salah satu makanan favorit pelaku diet keto.
Foto: Flickr
Kombinasi telur dan alpukat merupakan salah satu makanan favorit pelaku diet keto.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Diet keto menjadi salah satu metode pola makan yang cukup populer di Indonesia. Akan tetapi, sebuah studi terbaru mengungkap bahwa diet yang menerapkan pola makan rendah karbohidrat dan tinggi lemak ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan tubuh.

Studi tersebut menambah panjang daftar potensi bahaya diet keto. Para peneliti dari University of British Columbia di Kanada menunjukkan bahwa diet keto dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol jahat dalam darah.

Baca Juga

Hal ini juga dikaitkan dengan peningkatan risiko dua kali lipat kejadian kardiovaskular. Pelaku diet keto dapat mengalami nyeri dada (angina), penyumbatan arteri yang membutuhkan pemasangan ring jantung, serangan jantung, dan strok.

 

 

"Studi kami menemukan bahwa konsumsi rutin dari diet rendah karbohidrat dan tinggi lemak dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat, dan risiko lebih tinggi dari penyakit jantung," kata penulis utama Lulia Latan dari Pusat Inovasi Jantung dan Paru-paru University of British Columbia.

Untuk penelitian ini, Latan dan timnya menganalisis 305 partisipan yang dibandingkan dengan 1.220 orang yang mengonsumsi makanan standar. Mereka mendefinisikan diet rendah karbohidrat dan tinggi lemak sebagai diet yang terdiri dari tidak lebih dari 25 persen total energi atau kalori harian dari karbohidrat dan lebih dari 45 persen total kalori harian dari lemak.

Dibandingkan dengan partisipan yang menjalani diet standar, mereka yang menjalani diet keto memiliki kadar kolesterol LDL dan apolipoprotein B (apoB) yang jauh lebih tinggi. Ini merupakan protein yang membantu membawa lemak dan kolesterol ke seluruh tubuh manusia.

"Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa peningkatan apoB mungkin merupakan prediktor yang lebih baik peningkatan kolesterol LDL untuk risiko penyakit kardiovaskular," kata Latan seperti dilansir dari Times Now News, Senin (6/3/2023).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement