Ahad 08 Aug 2021 16:57 WIB

Studi Ungkap Bahaya Diet Keto Bagi Kesehatan

Studi mengungkap diet keto baik diaplikasikan sebagai bagian dari terapi komprehensif

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Dwi Murdaningsih
Diet keto (ilustrasi).
Foto: www.freepik.com
Diet keto (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Diet ketogenik atau diet keto merupakan salah satu tren pengaturan pola makan populer, khususnya di antara orang-orang yang sedang menurunkan berat badan. Diet keto diyakini dapat membantu menurunkan berat badan dengan lebih cepat dengan cara membuat tubuh masuk ke dalam ketosis.

Menurut Harvard Medical School, diet keto memfokuskan sebagian besar asupan kalori dari lemak. Diet ini juga sangat minim akan asupan karbohidrat. Sedangkan konsumsi protein dalam diet keto termasuk dalam tingkat yang sedang.

Baca Juga

Diet ini mulanya hanya digunakan untuk mengurangi frekuensi kejang epilepsi pada anak. Akan tetapi, belakangan ini diet keto juga kerap digunakan untuk menurunkan berat badan.

"Hanya jangka pendek yang diteliti, dan hasilnya beragam. Kami tidak tahu bila (diet keto) bekerja untuk jangka panjang, atau apakah itu aman dilakukan," ungkap ahli gizi sekaligus direktur Departemen Ilmu Gizi dari Brigham and Women's Hospital yang berafiliasi dengan Harvard Kathy McManus.

Sebuah studi terbaru berskala besar juga menyoroti risiko dari penerapan diet keto, khususnya dalam jangka panjang. Studi yang diterbitkan melalui Frontiers of Nutrition ini menyajikan ulasan paling komprehensif sejauh ini mengenai diet keto dan dampaknya bagi kesehatan, di samping penurunan berat badan.

Sejauh ini, diet keto diklaim dapat menurunkan risiko beberapa penyakit seperti kanker, Alzheimer, dan penyakit jantung. Pada kenyataannya, bukti ilmiah hanya menunjukkan bahwa diet keto baik diaplikasikan sebagai bagian dari terapi komprehensif untuk epilepsi.

Tak hanya itu, peneliti juga menemukan bahwa diet keto dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, kaker, dan penyakit Alzheimer. Diet keto pun diketahui dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat atau kolesterol LDL pada banyak pasien.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement