Senin 09 Aug 2021 20:36 WIB

Diet Keto Bisa Jadi Bencana Kesehatan Jangka Panjang

Studi baru soroti bahaya jangka panjang diet keto bagi kesehatan.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah
Studi baru soroti bahaya jangka panjang diet keto bagi kesehatan.
Foto: www.freepik.com
Studi baru soroti bahaya jangka panjang diet keto bagi kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jika Anda termasuk orang yang melakoni diet ketogenik alias diet keto, ada baiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau pakar gizi. Pasalnya, diet itu bisa memicu konsekuensi jangka panjang.

Pelaku diet keto lazimnya menerapkan pola makan kaya lemak, protein dalam jumlah sedang, dan karbohidrat dalam jumlah rendah. Terlepas dari sejumlah kontroversi, sebagian orang mengaku mendapat manfaat dari diet ini.

Baca Juga

Diet keto juga terbukti membantu mengendalikan epilepsi pada beberapa orang. Jenis diet ini pun diyakini sebagai cara cepat menurunkan berat badan dengan memaksa tubuh memasuki keadaan yang disebut ketosis.

Sejumlah penelitian mengungkap diet keto punya beberapa manfaat kesehatan potensial. Akan tetapi, sebuah studi terbaru menyoroti bahwa manfaatnya kemungkinan tidak lebih besar daripada efek jangka panjang yang bisa terjadi.

 

Berdasarkan hasil penelitian, ada deretan risiko dari melakoni diet keto secara berkepanjangan. Beberapa di antaranya termasuk kondisi serius seperti diabetes, penyakit jantung, kanker, dan penyakit Alzheimer.

Penulis utama tinjauan tersebut, Lee Crosby, bahkan menyebut diet keto sebagai bencana kesehatan yang dapat memicu penyakit. Dia tidak sepakat dengan pola makan yang dianggapnya tidak seimbang tersebut.

"Membatasi biji-bijian, sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan namun makan terlalu banyak lemak jenuh, merah daging, dan daging olahan adalah resep untuk kesehatan yang buruk," ungkapnya.

Tinjauan komprehensif yang dia gagas menghasilkan lima temuan utama yang berkaitan dengan kesehatan. Salah satunya, bagi banyak pasien, diet keto meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh.

Pasien penyakit ginjal cenderung mengalami gagal ginjal lebih cepat ketika menjalani diet keto protein tinggi. Sementara, ibu hamil yang menjalaninya menghadapi potensi bayinya lahir dengan cacat tabung saraf meski sudah mengonsumsi suplemen asam folat.

Penelitian juga menemukan bahwa dengan membatasi jumlah karbohidrat malah mengarahkan pelaku diet menyantap makanan yang meningkatkan risiko kanker. Jenis makanan yang biasa ada dalam diet keto dianggap kurang menyehatkan.

Para peneliti mengakui bahwa diet keto dapat membantu mengurangi berat badan dalam jangka pendek. Meskipun, belum tentu lebih efektif daripada jenis diet penurunan berat badan lainnya.

Satu-satunya penerapan bermanfaat dari diet keto yang didukung periset adalah untuk pengidap epilepsi. Khususnya, untuk pasien yang tidak merespons obat-obatan dengan baik, dikutip dari laman Slashgear, Senin (9/8).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement