Kamis 16 Feb 2023 15:51 WIB

'Malas Gerak' Rugikan Kesehatan, Salah Satunya Picu Risiko Kematian Dini

Padatnya pekerjaan membuat sebagian orang sulit meluangkan waktu untuk olahraga.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti
Gaya hidup jarang bergerak secara fisik atau sedentari memberikan dampak merugikan bagi kesehatan. (ilustrasi).
Foto: www.freepik.com
Gaya hidup jarang bergerak secara fisik atau sedentari memberikan dampak merugikan bagi kesehatan. (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Disadari atau tidak, ada banyak orang yang mengadopsi gaya hidup tidak aktif secara fisik atau seentari. Ironisnya, gaya hidup yang sangat umum ini ternyata bisa membawa beberapa dampak yang buruk bagi kesehatan.

Pada sebagian orang, gaya hidup sedentari terbentuk karena mereka menghabiskan banyak waktu dengan duduk di meja kantor dan selama berkendara. Sesampainya di rumah, mereka lalu kembali duduk bersantai di sofa untuk melepas lelah. Padatnya aktivitas semakin membuat mereka kesulitan untuk meluangkan waktu berolahraga.

Baca Juga

Gaya hidup yang tidak aktif seperti ini bisa membawa beberapa efek yang sangat merugikan bagi kesehatan. Berikut ini lima efek buruk di antaranya menurut Mike Bohl selaku direktur konten dan edukasi medis di Ro, seperti dilansir Eat This Not That, Kamis (16/2/2023):

1. Kenaikan berat badan

 

Orang-orang yang menerapkan gaya hidup sedentari cenderung lebih berisiko terhadap kenaikan berat badan. Hal ini bisa terjadi bila asupan kalori yang masuk lebih banyak dibandingkan asupan kalori yang dibakar atau dikeluarkan.

"Anda akan mengalami penambahan berat badan dan bisa berisiko terhadap obesitas," ujar dr Bohl.

2. Kehilangan kekuatan dan massa otot

Jarang bergerak juga dapat memicu terjadinya penurunan massa otot. Hal ini bisa terjadi karena otot yang jarang digunakan akan mengecil. Bila dibiarkan, kondisi ini akan memperburuk komposisi tubuh. Penurunan massa otot juga dapat membuat orang-orang merasa kesulitan untuk melakukan sesuatu dan lebih berisiko untuk jatuh.

3. Peningkatan risiko masalah kesehatan kronis

Gaya hidup yang tak aktif diketahui berkaitan erat dengan risiko beragam penyakit kronis atau penyakit jangka panjang. Beberapa di antaranya adalah kanker, diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, strok, kolesterol tinggi, sindrom metabolik, serta osteoporosis.

4. Risiko perburukan kesehatan mental

Selain berdampak pada kesehatan fisik, gaya hidup yang tidak aktif juga bisa berdampak pada kesehatan mental. Studi menemukan bahwa kadar energi yang rendah, masalah tidur, serta tidak aktif secara fisik berkaitan dengan depresi dan perubahan suasana hati.

5. Memicu risiko kematian dini

Gaya hidup tidak aktif dapat meningkatkan risiko terjadinya kematian dini. Studi dalam European Society of Cardiology misalnya, menemukan bahwa gaya hidup sedentari yang diterapkan selama 20 tahun bisa melipatgandakan risiko kematian dini.

Kiat melawan efek buruk gaya hidup sedentari

Cara terbaik untuk menghentikan gaya hidup sedentari adalah dengan memadukan aktivitas fisik terstruktur dan tak terstruktur dalam keseharian. Contoh dari aktivitas fisik terstruktur untuk orang dewasa adalah olahraga aerobik dengan intensitas sedang sebanyak 150 menit per pekan atau 30 menit per hari sebanyak lima hari per pekan, disertai dengan latihan kekuatan otot minimal dua kali per pekan.

Sedangkan aktivitas fisik tak terstruktur bisa berupa apa pun. Misalnya, aktivitas membersihkan rumah, menaiki tangga alih-alih menggunalan lift, hingga berjalan-jalan di mal.

Agar tak lupa untuk beraktivitas fisik, coba buat alarm pengingat. Sebagai contoh, pegawai kantoran bisa memasang alarm setiap 30-60 menit sekali untuk melakukan peregangan hingga berjalan kaki santai. 

Aktivitas fisik juga akan terasa semakin menyenangkan bila dilakukan bersama orang lain. Coba ajak teman atau keliarga untuk jalan kaki atau lari bersama setiap pekan.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement