Selasa 17 Jan 2023 23:14 WIB

Waspada Leukimia Akut Pada Anak

Orang tua diminta selalu konsultasikan keluhan anak ke dokter.

Rep: Rr Laeny Sulistyowati/ Red: Muhammad Hafil
Waspada Leukimia Akut Pada Anak. Foto: Cek darah laboratorium. Ilustrasi
Foto: Pixabay.
Waspada Leukimia Akut Pada Anak. Foto: Cek darah laboratorium. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Kanker darah (leukimia) menjadi aalah satu penyakit yang mematikan. Tak hanya orang dewasa, leukimia juga bisa diderita anak, bahkan ada di fase akut.

"Disebut leukimia akut karena progressnya (perkembangannya) cepat. Sehingga, dalam waktu singkat anak yang semula normal dan sehat kemudian muncul berbagai gejala," kata Dokter spesialis anam dari rumah sakit umum pusat (RSUP) Persahabatan Dewi Anggraeni, Selasa (17/1/2023).

Baca Juga

Ia menambahkan, sebenarnya leukimia akut bisa terjadi pada orang dewasa, kendati demikian kasus leukimia akut juga ditemui pada anak. Terkait penyebab leukimia akut bisa menyerang anak, ia mengakui belum diketahui secara pasti. 

"Namun, diduga itu merupakan mutasi gen yang menyebabkan proses pembentukan sel darah putih sumsum tulang menjadi terganggu bahkan berlebihan," katanya.

Ia menyebutkan gejala dan tanda-tanda leukimia akut yang paling kelihatan adalah pucat. Jadi anak terlihat lebih putih  dari biasanya, kemudian tampak lemas. Ciri lainnya adalah menjadi kurang aktif, yang biasanya berlari-lari dan main namun sekarang jadi mudah kecapaian. Kemudian ada juga gejala pendarahan seperti mimisan atau biru di kulit, ada juga yang nafsu makannya berkurang, ada juga yang turun berat badannya, hingga perutnya juga lebih buncit. Dia menambahkan, secara umum faktor pemicu leukimia akut yaitu paparan radiasi dosis tinggi, kemudian juga paparan bahan kimia tertentu, kemudian paparan kemoterapi, cacat genetik, kemudian ada juga infeksi virus tertentu.

Lebih lanjut ia menyebutkan kebanyakan anak menderita limfoblastik akut (LLA). Bahkan prevalensinya sekitar 30 hingga 40 persen dari seluruh keganasan pada anak. Tercatat kasusnya di bawah usia 15 tahun ditemukan sekitar 4 sampai 4,5 juta kasus.

Terpisah, dokter spesialis anak Hikari Ambara Sjakti di situs Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menambahkan, secara garis besar leukemia dibagi menjadi leukemia akut dan kronis. Leukemia juga dapat digolongkan berdasarkan jenis sel leukosit yang terlibat, yaitu leukemia limfoblastik dan mieloblastik. 

"Pada anak leukemia yang paling banyak ditemukan adalah jenis leukemia limfoblastik akut (LLA)," katanya.

Selain leukemia akut, dia melanjutkan, terdapat juga jenis leukemia kronik. Leukemia kronik dibagi menjadi dua, yaitu leukemia mieloblastik kronik (LMK) dan leukemia limfositik kronik (LLK). Pada anak leukemia mieloblastik kronik (LMK) yang banyak ditemukan, sedangkan jenis leukemia limfositik kronik (LLK) pada anak jarang sekali. Terkait keberhasilan pengobatan leukemia, ia menyebut ini tergantung dari jenis leukemia dan stratifikasi risikonya. Penderita leukemia yang memiliki risiko tinggi, semakin kurang baik pula prognosisnya. Di Indonesia dilaporkan angka sintasan atau tingkat kelangsungan hidup anak yang menderita leukemia limfositik akut (LLA) sebesar 70 – 80 persen. 

"Namun, harus diingat bahwa selalu ada risiko kambuh, yaitu kembalinya tanda dan gejala penyakit setelah mengalami remisi (sembuh)," ujarnya.

Ia menambahkan, diagnosis dini melalui pemeriksaan oleh dokter dan pengobatan yang tepat dapat memberikan prognosis yang baik. Oleh karena itu, orang tua diminta selalu konsultasikan keluhan anak Anda ke dokter di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement