Jumat 22 Feb 2019 09:03 WIB

Mengapa Rasa Sakit Terasa Lebih Parah Ketika Malam Hari?

Ritme sirkadian tubuh memperburuk gejala sakit setelah matahari terbenam.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah
Tertidur (ilustrasi)
Foto: Boldsky
Tertidur (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika sedang terkena flu, batuk, atau sakit perut, mungkin akan terasa gejalanya menjadi lebih buruk di malam hari. Hal tersebut bukan hanya terkaan semata, penelitian menunjukkan ritme sirkadian tubuh dapat memperburuk gejala sakit setelah matahari terbenam.

Seiring dengan pengaturan tidur, jam sirkadian tubuh membantu mengatur sistem kekebalan tubuh. "Ketika sistem kekebalan diaktifkan, sel-selnya yang melawan infeksi melepaskan berbagai bahan kimia, beberapa di antaranya menyebabkan peradangan pada jaringan yang terinfeksi," ujar peneliti ritme biologis dan asisten profesor teknik biomedis di University of Texas Michael Smolensky, dikutip dari Time, Jumat (22/2).

Baca Juga

Aktivitas sistem kekebalan ini membantu membunuh atau membersihkan mikroorganisme yang membuat tubuh sakit. Namun, peradangan yang terjadi menyebabkan atau berkontribusi pada banyak gejala, termasuk demam, hidung tersumbat, atau sakit tenggorokan.

Smolensky mengatakan, aktivitas sistem kekebalan tubuh dan peradangan yang dihasilkannya tidak konstan. Akibatnya, tubuh cenderung mengalami gejala yang paling parah ketika sistem kekebalan tubuh berada di level tertinggi, yang biasanya terjadi di malam hari saat tidur.

Lonjakan malam hari ini dalam aktivitas sistem kekebalan tubuh dan peradangan juga dapat bertahan hingga pagi hari. Terlepas dari gejala, tubuh memang mungkin merasa lebih buruk di pagi hari ketika bangun tidur.

Sore dan awal malam hari, menurut penelitian Smolensky, adalah saat-saat ketika sistem kekebalan tubuh cenderung melunak. Bukan hal yang aneh ketika tubuh merasa sedikit lebih baik di masa-masa itu, namun kemudian ada gejala yang datang kembali di malam hari.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement