REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Jagad media sosial di Asia Tenggara belakangan menyala dengan amukan terhadap aksi rasisme netizen Korea Selatan, memunculkan semacam solidaritas dengan tagar SEAblings, gabungan dari South East Asia (SEA) “siblings” alias bersaudara. Benarkah ada persoalan rasisme di negara asal banyak grup K-Pop yang dipuja-puji di Tanah Air tersebut?
Tagar SEAblings, yang dimulai sebagai solidaritas Asia Tenggara terkait aksi unjuk rasa di Indonesia tahun lalu, kini jadi seruan bersatu melawan netizen Korea Selatan yang melontarkan hinaan rasialis setelah ditertibkan dalam salah satu konser K-Pop di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu.
Dilansir the Korea Herald, meskipun sikap meremehkan terhadap etnis lain lebih banyak terlihat di dunia maya, hal ini mencerminkan sentimen yang lebih luas di Korea Selatan. Media itu mengutip pisah Lee Guk-cheong (33 tahun).
"Saya sedang berada di sebuah toko sepatu bersama beberapa teman Indonesia di Daegu, dan saya merasa para stafnya kurang memperhatikan kami. Saya pikir itu karena orang-orang Asia Tenggara sering dianggap berasal dari negara-negara miskin," ujarnya. "Tapi itu halus – tidak ada kekerasan."
Namun, bertentangan dengan kepercayaan umum di antara banyak orang Korea, rasisme di Korea mungkin tidak sehalus yang mereka kira.
Dalam survei US News & World Report mengenai “Negara-Negara Terburuk dalam Keadilan Rasial,” Korea Selatan menduduki peringkat kelima terburuk di antara 89 negara yang disurvei.
Laporan tersebut menyebutkan permasalahan sistemik seperti terbatasnya tunjangan penitipan anak bagi keluarga imigran dan kebijakan izin kerja yang membatasi yang menyulitkan migran untuk mendapatkan izin tinggal permanen.
Profesor sosiologi Park Kyung-tae dari Universitas Sungkonghoe mengatakan xenofobia yang lazim di kalangan masyarakat Korea memiliki ciri khas tersendiri.
"Rasisme ala Korea menginternalisasikan hierarki rasial di Barat, di mana orang kulit putih berada di posisi teratas dan orang kulit hitam berada di posisi terbawah. Orang Korea melihat diri mereka berada di tengah-tengah – idealnya lebih dekat ke atas – dan merasa bangga dengan posisi tersebut," jelasnya.
Menurutnya, imigran non-kulit putih Asia sering menghadapi diskriminasi terkait status ekonomi negara mereka. “Hierarki ekonomi memperkuat prasangka rasial,” kata Park.