Senin 31 Dec 2018 10:13 WIB

Belajar Bersantai Dapat Mengubah Hidup

Bersantai semakin sulit di dunia digital yang selalu aktif.

Rep: MGROL116/ Red: Ani Nursalikah
Wisatawan tengah menikmati waktu sambil bersantai di salah satu spot di Bukit Gebang, Bangka Selatan.
Foto: Dokumen Republika
Wisatawan tengah menikmati waktu sambil bersantai di salah satu spot di Bukit Gebang, Bangka Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak dari kita yang lupa bagaimana benar-benar bersantai. Bersantai semakin sulit di dunia digital yang selalu aktif.

Cara untuk menghilangkan stres sekarang terasa sangat terbatas dan tidak menjamin dapat menenangkan. Hal itu biasanya disebabkan oleh kerja yang sangat keras dan kompetitif.

Dilansir di The Guardian, ketika ada waktu luang, kebanyakan orang sering tidak tahu apa yang harus dilakukan dan akhirnya melamun lalu tanpa sadar waktu telah banyak terbuang. Ini masalah umum yang sering terjadi.

"Saya tidak akan tahu apa yang harus dilakukan dengan libur sepekan," kata aktor Diane Keaton kepada majalah More.

Musisi Gwen Stefani mengatakan kepada penata busananya, setiap kali dia dapat waktu istirahat, dia merasa seolah-olah sedikit panik atau berusaha untuk merencanakan hal yang akan ia lakukan berikutnya. Elon Musk, ketika ditanya apa yang biasanya dia lakukan setelah bekerja, "Biasanya bekerja lebih banyak," katanya.

Kebutuhan akan sumber relaksasi yang sederhana dapat dilihat pada lonjakan awal popularitas buku mewarnai dewasa. Terdapat peningkatan 13,3 persen tahun lalu dalam penjualan buku bimbingan spiritual tentang bagaimana hidup di dunia yang sibuk.

Aplikasi meditasi Headspace telah diunduh lebih dari 15 juta kali. Produk-produk itu tentunya menghabiskan uang untuk mencari jawaban dari persoalan.

Forbes menyatakan kepopuleran buku mewarnai mati pada Mei. Pada Juni tahun lalu, Headspace memberhentikan 13 staf.

Menurut laporan Ofcom, kebanyakan orang di Inggris bergantung pada perangkat digital dan koneksi internet. Ditemukan kenaikan dari 78 persen menjadi 95 persen kepemilikan ponsel pintar pada kisaran usia 16-24 tahun.

Kegiatan memeriksa ponsel rata-rata setiap 12 menit sekali setiap hari. Sedangkan 54 persennya merasa perangkat itu mengganggu percakapan dengan teman dan keluarga. Sebanyak 43 persen merasa menghabiskan waktu terlalu banyak untuk online.

Rasanya tidak bisa bersantai dengan ponsel dan sebagian besar orang tidak tahu bagaimana bersantai tanpa ponsel. Tujuh dari 10 orang tidak pernah mematikan ponsel.

Psikolog klinis Rachel Andrew mengatakan dia melihat masalah setiap hari itu semakin buruk. “Saya telah melihat peningkatan dalam praktik saya, tentu saja selama tiga hingga lima tahun terakhir. Orang-orang merasa semakin sulit mematikan ponsel dan bersantai. Dan itu di seluruh umur, dari usia 12 hingga 70 tahun," katanya.

Masalah yang sama muncul berulang kali: teknologi, telepon, email kantor, dan media sosial. Andrew menjelaskan, beberapa pasiennya tidak pernah berpikir bagaimana mereka ingin menghabiskan waktu mereka.

"Orang-orang itu mengatakan mereka begitu sibuk melakukan 'kewajiban'," katanya.

Kewajiban seperti bekerja, merawat keluarga, atau menjadi bagian dari persahabatan yang menuntut. Pada saat malam atau akhir pekan tiba, mereka bisa saja melakukan apa yang mereka inginkan. Namun, tidak ada energi atau motivasi yang tersisa untuk apa pun.

"Itu sulit, karena bagaimana hidup ini menyenangkan atau memuaskan dalam jangka panjang jika Anda hanya melakukan apa yang harus Anda lakukan sepanjang waktu?" ucap Andrew.

Ada pula yang merasa asing dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan dan keinginan sendiri. Orang yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang berpusat pada kebutuhan saudara kandung atau orang tua mungkin telah menghabiskan seluruh hidup tanpa pernah ditanya tentang apa yang ingin ia lakukan.

Menurut Andrew, bagi orang-orang yang merasa seperti itu, mengidentifikasi sesuatu yang mereka rasa menyenangkan dan mengejarnya, bisa menjadi perubahan besar yang mengubah hidup. "Masalah lain adalah sulit untuk mengurai keinginan diri sendiri dari orang-orang di sekitar," kata Pendiri Life Clubs, Nina Grunfeld.

Menurutnya, dibutuhkan banyak upaya untuk menemukan di mana letak kesenangan yang juga dimulai oleh pasangan. Psikoanalis dari Institut Psikoanalisis, David Morgan, percaya banyak dari kita kembali menghabiskan waktu dengan ponsel. Itu alasan dan konsekuensi dari kenyataan kita tidak lagi tahu bagaimana bersantai dan menikmati diri kita sendiri.

"Layar dan untuk apa digunakannya adalah semua teknik pengalih perhatian," katanya.

Menurutnya, orang-orang sudah terbiasa mencari gangguan sehingga mereka benar-benar tidak tahan menghadapi malam. Hal itu menyebabkan tidak bisa memahami diri sendiri karena memahami diri sendiri membutuhkan ruang mental dan semua yang mengalihkan perhatian membuat Anda sulit memahami diri sendiri.

Psikoterapi dan psikoanalitik dapat membantu untuk memikirkan alasan mengapa melakukan hal itu. Bagi Morgan, terapi dapat menjadi hal penting untuk tidak terjebak dalam kebiasaan memandang layar ponsel atau perangkat elektronik lainnya karena di suatu tempat seseorang didorong untuk menggunakan pikirannya.

"Ruang terapeutik adalah kebalikan dari gangguan, ini adalah konsentrasi," katanya.

Ketika orang-orang datang ke ruang konsultasinya, mereka sering mengatakan kepada Morgan, ini adalah pertama kalinya mereka merasa memiliki ruang di mana mereka tidak dapat melarikan diri dari hal-hal lain. Di sebuah ruangan dengan seseorang yang dapat mendengarkan dan membantu memahami banyak hal, itu bisa melegakan.

“Kami memiliki berbagai cara untuk mengalihkan diri dari fakta terpenting kehidupan - bahwa kita hidup, dan kemudian kita mati. Membantu berpikir tentang berbagai hal, memiliki seseorang yang dapat berpikir secara mendalam tentang berbagai hal adalah cara mengelola fakta kehidupan yang sangat menakutkan ini,” ujar Morgan.

Sisi sebaliknya dari fakta yang menakutkan itu adalah kesadaran karena kita tidak punya banyak waktu di planet ini. Berikut beberapa kiat untuk temukan kembali relaksasi yang hilang.

• Jika Anda menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman, Nina Grunfeld merekomendasikan untuk menugaskan setiap orang selama satu jam di mana mereka bertanggung jawab atas jadwal kelompok. Mereka dapat memilih kegiatan apa pun yang mereka anggap paling santai.

“Salah satu anak saya mungkin memutuskan kita semua harus bermain gim video, yang lain akan memutuskan kita semua akan berjalan-jalan; yang lain akan membuat kita semua membuat kue. Dengan begitu Anda semua mendapatkan sedikit 'waktu-saya', dan Anda dapat mengalami pengalaman orang lain - dan itu sangat santai tanpa harus membuat keputusan sepanjang hari," katanya.

• Cobalah mengingat apa yang paling Anda sukai saat masih kanak-kanak, kemudian kenali aspek terpenting dari aktivitas itu dan temukan versi dewasa.

"Mungkin Anda tidak dapat mengingatnya, dan Anda harus bertanya kepada teman atau keluarga, atau melihat album foto lama,” kata Grunfeld. Jika Anda suka bermain di pasir, Anda mungkin ingin mencoba tembikar atau jika Anda suka membangun sesuatu, Anda mungkin ingin membuat roti.

• Bereksperimenlah dengan memandang dunia dengan cara yang baru. Biarkan dirimu menjelajah. Berjalanlah ke mana saja kamu pergi.

• Jika Anda tidak tahu cara mulai bersantai, lihat sains. "Ada banyak penelitian yang menunjukkan keluar di alam itu memajukan pikiran dan menutrisi," kata Rachel Andrew.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement