Selasa 11 Dec 2012 15:09 WIB

Agar Anak Tunggal tidak Egois, Begini Nih Jurusnya

Rep: Meiliani Fauziah/ Red: Endah Hapsari
Anak tunggal/ilustrasi
Foto: naturalparentsnetwork.com
Anak tunggal/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Seperti anak lainnya, anak semata wayang perlu memiliki keterampilan sosial yang baik. Pada kakak-beradik, kepekaan sosial lebih mudah tumbuh secara alami. Untuk si tunggal, pengajaran bisa dimulai dengan memasukkan ananda ke play group.

 

 

* Pilihlah kelompok bermain yang memungkinkan anak-anak untuk bermain dan mengekspresikan dirinya. Jangan masukan anak ke play groupyang memaksa anak belajar keras lebih awal dari anak seumurannya. “Pola bermain bersama teman tentu berbeda dengan bermain sama pengasuh,” ucap psikolog Harfiah Putu Ponco MPsi.

* Orang tua harus mempunyai komitmen untuk menyediakan waktu ekslusif untuk si anak tunggal. Bagi orang tua bekerja, luangkan waktu sepulang kantor hanya untuk ananda seorang. Sebelumnya, ambil jeda sejenak untuk istirahat dan meredakan emosi yang mungkin terbawa dari tempat kerja ke rumah. “Bermainlah bersama. Jangan hanya sekadar menemani anak, sementara sibuk dengan gadget,” saran Harfiah.

* Pada akhir pekan, ajaklah anak mengunjungi taman atau tempat terbuka yang memungkinkannya bertemu banyak orang. Lebih bagus lagi jika yang akan ditemuinya adalah tetangga atau orang yang dia kenal. Berikan contoh nyata cara membina silaturahim yang baik. Contoh ini menjadi pedomannya kelak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial.

* Sering-seringlah mengajak buah hati menghadiri acara keluarga, seperti arisan. Di sana ia bisa bertemu dengan keluarga besarnya sambil berlatih sosialisasi. Dorong keberaniannya untuk tampil jika melihat si buyung justru asyik sendiri dengan aneka mainannya. “Kenalkan dia pada anggota keluarga yang lain. Mintalah para sepupu untuk mengajaknya bermain,” tutur Harfiah memandu. 

* Karakteristik tertentu biasanya muncul ketika memasuki usia sekolah. Anak tunggal sering dilekatkan dengan sikap penuntut, egois, dan mau menang sendiri. Maklumi saja kalau usianya belum lagi empat tahun. Kalaupun karakter ini sudah tumbuh, hilangkan perlahan dengan menggunakan media bercerita. Karanglah cerita yang tokohnya bersifat sama seperti ananda. Di bagian penutup, selipkan pesan moral yang baik agar si anak tahu caranya berubah. Agar tidak kesepian, ananda bisa didaftarkan pada kegiatan yang memang ia sukai. 

* Cari tahu minat si buyung dengan bertanya langsung kepadanya. Pengasuh bisa juga dimintai pendapat karena sering bersama anak. Bekal ini akan sangat berguna ketika anak tumbuh dewasa. “Pastikan anak mengetahui apa yang dia inginkan dalam hidup. Bukan hanya menuruti arahan orang tuanya,” urai psikolog yang berpraktik di Klinik Terpadu Universitas Indonesia ini.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement