REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berjalan kaki dengan langkah lebih cepat selama sekitar 30 menit sehari dapat membantu menurunkan risiko kematian pada sebagian orang dewasa. Terutama mereka yang belum mampu mencapai jumlah langkah harian yang tinggi.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang melibatkan sekitar 70 ribu orang dewasa berusia 40 hingga 69 tahun di Australia dan Spanyol. Hasil penelitian diterbitkan dalam British Journal of Sports Medicine.
Para peneliti membagi peserta ke dalam empat kelompok berdasarkan jumlah langkah harian. Yakni kurang dari 5.000 langkah, 5.000 hingga 7.000 langkah, 7.500 hingga 10 ribu langkah, serta lebih dari 10 ribu langkah per hari.
Selain menghitung jumlah langkah, peneliti juga mengukur peak 30-minute cadence, yakni rata-rata jumlah langkah per menit yang dilakukan peserta selama 30 menit paling aktif dalam sehari.
Hasilnya menunjukkan, pada kelompok yang berjalan kurang dari 5.000 langkah per hari, mereka yang memiliki kecepatan sekitar 60 hingga 90 langkah per menit memiliki risiko kematian lebih rendah dibandingkan mereka yang berjalan dengan kecepatan lebih lambat. Pada kelompok dengan kurang dari 5.000 langkah per hari, kecepatan sekitar 80 langkah per menit bahkan dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih rendah dibandingkan kelompok dengan kecepatan berjalan lebih lambat.
Menurut peneliti senior Nicholas Koemel dari Monash University, temuan tersebut menunjukkan bahwa meningkatkan kecepatan berjalan dapat memberikan manfaat kesehatan, terutama bagi orang yang memiliki kesulitan menambah jumlah langkah harian. "Kecepatan dapat menjadi semacam pertukaran, setidaknya sampai batas tertentu," kata Koemel kepada ABC News, dikutip Selasa (15/9/2026).
Meski demikian, penelitian tersebut menemukan jumlah langkah tetap memiliki peran penting. Peserta yang berjalan 7.500 hingga 10 ribu langkah per hari memiliki risiko kematian paling rendah, terlepas dari seberapa cepat mereka mengumpulkan langkah tersebut.
Para peneliti mengatakan hasil ini memberikan bukti peningkatan intensitas berjalan dapat menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan aktivitas fisik. Hal tersebut terutama dapat bermanfaat bagi kelompok usia paruh baya dan lanjut usia yang memiliki keterbatasan untuk meningkatkan jumlah maupun intensitas langkah setiap hari.
"Hal utama yang dapat diambil adalah jumlah langkah dan seberapa cepat Anda melangkah sama-sama dapat memengaruhi risiko kematian dan penyakit," ujar Koemel.
Menurutnya, tidak hanya ada satu cara untuk mendapatkan manfaat kesehatan dari aktivitas berjalan. Bagi orang yang kesulitan menambah jumlah langkah, meningkatkan kecepatan berjalan, bahkan dalam waktu singkat, berpotensi memberikan manfaat yang sebanding dalam kondisi tertentu.
Namun, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Salah satunya, peserta hanya diwajibkan mencatat aktivitas selama tiga hari untuk dapat mengikuti penelitian. Karena itu, hasil penelitian tidak serta-merta menunjukkan hubungan sebab-akibat antara kecepatan berjalan dan risiko kematian.
Para peneliti menilai studi ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pengembangan rekomendasi kesehatan masyarakat dan panduan klinis mengenai aktivitas berbasis jumlah langkah pada masa mendatang.