REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kecepatan berjalan pada lansia ternyata dapat menjadi indikator kesehatan otak. Sebuah penelitian terbaru menemukan lansia berusia 80 tahun ke atas yang memiliki kecepatan berjalan jauh lebih tinggi dibandingkan teman sebayanya memiliki risiko penurunan fungsi kognitif sekitar 50 persen lebih rendah.
Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Stony Brook Medicine, New York, tersebut melibatkan sekitar 4.000 orang berusia 80 tahun ke atas yang mengikuti sejumlah studi mengenai penuaan dan umur panjang selama beberapa tahun. Hasil penelitian dipublikasikan dalam jurnal Neurology pada 16 Juni 2026.
Dalam penelitian tersebut, dilansir dari Fox News, Kamis (9/7/2026), sekitar 6 hingga 10 persen peserta dikategorikan sebagai "super movers", yakni lansia yang mampu berjalan dengan kecepatan jauh lebih tinggi dibandingkan orang lain dengan usia dan jenis kelamin yang sama. Bahkan, kecepatan berjalan mereka disebut setara dengan orang yang usianya sekitar 30 tahun lebih muda.
Peneliti utama sekaligus ahli saraf dari Stony Brook Medicine, Dr Joe Verghese, mengatakan kelompok "super movers" memiliki kemungkinan mengalami gangguan kognitif sekitar setengah lebih rendah dibandingkan lansia dengan kecepatan berjalan normal. "Temuan ini memperkuat bahwa mobilitas dan kesehatan otak saling berkaitan. Menjaga kemampuan bergerak dapat menjadi penanda penting penuaan otak yang sehat dan daya tahan terhadap proses penuaan," ujar Verghese.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil studi ini tidak membuktikan berjalan lebih cepat dapat mencegah demensia. Penelitian tersebut bersifat observasional sehingga hanya menunjukkan adanya hubungan, bukan sebab-akibat.
Analisis jaringan otak setelah peserta meninggal dunia juga menunjukkan temuan menarik. Kelompok "super movers" ternyata memiliki perubahan patologis pada otak yang berkaitan dengan demensia dalam tingkat yang serupa dengan kelompok lain. Namun, fungsi kognitif mereka tetap lebih baik.
Menurut Verghese, hal itu mengindikasikan kemungkinan adanya mekanisme ketahanan biologis yang membantu menjaga fungsi otak meski terjadi perubahan akibat penuaan. "Memahami faktor-faktor ketahanan tersebut dapat membuka peluang strategi baru untuk mendukung penuaan otak yang sehat," katanya.
Ia menambahkan, berbagai faktor lain seperti kesehatan jantung, kebugaran fisik, maupun faktor genetik kemungkinan turut berperan dalam membuat seseorang mampu berjalan lebih cepat sekaligus memiliki fungsi kognitif yang lebih baik. Karena itu, kecepatan berjalan sebaiknya dipandang sebagai indikator kesehatan secara keseluruhan, bukan sebagai terapi untuk mencegah demensia.
Verghese menyarankan lansia tetap aktif bergerak sesuai kondisi kesehatannya. Selain berjalan kaki secara rutin, latihan kekuatan otot, latihan keseimbangan, dan menjaga kesehatan kardiovaskular juga penting untuk mempertahankan mobilitas.
Pedoman kesehatan masyarakat di Amerika Serikat merekomendasikan orang dewasa melakukan sedikitnya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang setiap pekan, misalnya jalan cepat. Target tersebut dapat dicapai dengan berjalan sekitar 30 menit sehari selama lima hari dalam sepekan atau sekitar 20-25 menit hampir setiap hari.
Meski demikian, Verghese mengingatkan agar setiap orang menyesuaikan aktivitas fisik dengan kondisi kesehatan masing-masing dan berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai program olahraga, terutama bila memiliki penyakit tertentu. "Keuntungan berjalan kaki adalah Anda bisa memulainya secara perlahan, kemudian secara bertahap meningkatkan kecepatan. Menambahkan latihan kekuatan dan keseimbangan juga penting dilakukan pada usia berapa pun," ujarnya.