REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fenomena "anak AC" menjadi perbincangan di media sosial setelah beredar video yang memperlihatkan sejumlah anak tampak kewalahan saat mengikuti upacara di luar ruangan. Dalam video tersebut, beberapa anak terlihat mulai panik, menangis, hingga kesulitan bertahan karena cuaca panas.
Menanggapi fenomena tersebut, ahli pengasuhan dan perkembangan anak IPB University, Prof Dwi Hastuti, mengatakan anak tetap perlu dilatih menghadapi ketidaknyamanan agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan adaptif. Menurut dia, Generasi Alpha yang lahir pada 2010-2025 tumbuh di tengah perkembangan teknologi, digitalisasi, serta berbagai fasilitas yang memberikan kemudahan, termasuk penggunaan pendingin ruangan (AC).
"Dari perspektif psikologis, kondisi tersebut membuat anak-anak gen Alpha cenderung terbiasa memperoleh kemudahan sehingga karakter kegigihan, ketahanan mental, dan daya juang mereka berpotensi tidak sekuat generasi sebelumnya," kata Prof Tuti dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (7/8/2026).
Prof Tuti mengatakan gaya hidup di sekitar anak turut membentuk karakter mereka. Kehadiran media sosial membuat anak lebih sering membandingkan situasi yang dialaminya dengan pengalaman orang lain atau tokoh yang mereka ikuti.
"Gaya hidup di sekitar lingkungan anak-anak ini juga akan mempengaruhi karakter gen Alpha, karena mereka kerap membandingkan situasi yang dihadapi dengan apa yang dialami orang lain dan tokoh di media sosial," kata dia.
Kemudahan fasilitas juga membentuk kebiasaan berpikir serba instan. Saat merasa kepanasan, misalnya, anak cenderung langsung menyalakan AC tanpa mencoba alternatif lain seperti menggunakan kipas tangan, mencari tempat yang lebih sejuk, atau mengenakan pakaian berbahan katun yang lebih nyaman.
Menurut Prof Tuti kebiasaan tersebut dapat membuat anak kurang terbiasa mencari solusi ketika menghadapi masalah. Pola hidup yang minim aktivitas fisik (sedentary life) juga menjadi salah satu karakter yang mulai banyak ditemui pada gen Alpha.