Kamis 06 Aug 2026 13:53 WIB

Jangan Diabaikan! Dokter Ungkap Pentingnya Pemantauan Kurva Pertumbuhan Anak

Tenaga kesehatan perlu membantu orang tua memahami cara membaca kurva pertumbuhan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Petugas mengukur lingkar kepala anak balita di Posyandu Lamasa, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (6/7/2026). Pertumbuhan anak perlu dipantau secara rutin karena menjadi indikator penting untuk menilai kesehatan dan status gizi, sekaligus mendeteksi dini bila terjadi penyimpangan tumbuh kembang.
Foto: ANTARA FOTO/Andry Denisah
Petugas mengukur lingkar kepala anak balita di Posyandu Lamasa, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (6/7/2026). Pertumbuhan anak perlu dipantau secara rutin karena menjadi indikator penting untuk menilai kesehatan dan status gizi, sekaligus mendeteksi dini bila terjadi penyimpangan tumbuh kembang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pertumbuhan anak perlu dipantau secara rutin karena menjadi indikator penting untuk menilai kesehatan dan status gizi, sekaligus mendeteksi dini bila terjadi penyimpangan tumbuh kembang. Namun, pemeriksaan kurva pertumbuhan pada Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) justru masih sering diabaikan.

Hal itu disampaikan dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang pediatri sosial, Dr dr I Gusti Ayu Trisna Windiani. Menurut dia, kesalahan yang paling sering ditemui adalah kurva pertumbuhan di Buku KIA tidak terisi secara rutin karena pengukuran pertumbuhan anak tidak dilakukan secara konsisten.

Baca Juga

"Yang pertama yang kita lihat, buku KIA yang dipakai untuk kurva pertumbuhan itu seringnya kosong. Pertumbuhannya kadang diukur, kadang tidak," kata dr Trisna dalam webinar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dipantau di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

la mengatakan kurva berat badan menurut umur dapat diplot oleh kader saat kegiatan Posyandu. Adapun apabila anak tidak datang ke Posyandu, pencatatan dapat dilakukan saat pemeriksaan di dokter spesialis anak maupun dokter umum.

"Kalau dia tidak di Posyandu, di dokter anak atau dokter umum, tolong jelaskan kepada pasien, kepada ibu, pada orang tuanya," kata dr Trisna.

Menurut dr Trisna, tenaga kesehatan juga perlu membantu orang tua memahami cara membaca kurva pertumbuhan. Sebab, tidak sedikit orang tua yang masih kesulitan menginterpretasikan grafik tersebut.

Sebagai contoh, tenaga kesehatan dapat menjelaskan bahwa berat badan anak usia lima bulan seharusnya berada di sekitar garis median atau garis hijau pada kurva pertumbuhan. Dari penjelasan itu, orang tua dapat mengetahui apakah berat badan anak sudah sesuai atau masih berada di bawah rata-rata.

"Kalau orang tua sendiri, dia mungkin akan bingung soal kurva kesehatan. Itu adalah PR bagi kita, bahwa bantulah orang tua untuk apa sih membaca kurva itu seperti apa. Misalkan, 'Ibu, Bapak ini beratnya masih kurang di rata-rata ya! 'Beratnya ini hanya satu titik. Mesti ulang, harus continue', dijelaskan," kata dr Trisna.

la menjelaskan kurva pertumbuhan digunakan untuk menilai kesehatan dan status gizi anak. Melalui pemantauan rutin, tenaga kesehatan dapat menemukan risiko penyimpangan pertumbuhan lebih dini, menilai arah pertumbuhan anak berdasarkan tren, bukan hanya dari satu kali pengukuran, serta menentukan intervensi maupun rujukan yang tepat bila diperlukan.

"Karena itu, pemantauan pertumbuhan memerlukan standar yang tepat. Misalnya Kemenkes juga merilis, dan yang paling mudah itu tadi di buku KIA," kata dia.

Dia mengungkap cara pengukuran berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala dengan benar sebagai berikut:

1. Mengukur berat badan

Gunakan timbangan digital. Sebelum digunakan dan letakkan di permukaan yang datar, keras, serta rata. Nyalakan timbangan hingga menunjukkan angka 0,0.

Pastikan bayi ditimbang tanpa pakaian, sedangkan anak yang lebih besar sebaiknya mengenakan pakaian seminimal mungkin. Catat hasil penimbangan dengan ketelitian hingga 0,1 kilogram.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi