Sabtu 28 Mar 2026 07:03 WIB

Benarkah Tidur Posisi Miring Bikin Kulit Wajah Berkerut dan Kendur?

Menekan satu sisi wajah ke bantal sering dituding biang keladi munculnya kerutan.

Tidur posisi menyamping. Muncul klaim bahwa tidur dengan posisi miring dapat menimbulkan kerutan, kulit kendur, hingga wajah yang tidak simetris.
Foto: www.freepik.com
Tidur posisi menyamping. Muncul klaim bahwa tidur dengan posisi miring dapat menimbulkan kerutan, kulit kendur, hingga wajah yang tidak simetris.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi sebagian besar orang, posisi tidur menyamping adalah posisi yang paling nyaman dan menenangkan. Berdasarkan survei tahun 2024, sekitar 69 persen orang dewasa di Amerika Serikat (AS) memilih posisi ini sebagai favorit mereka.

Namun, jika Anda termasuk dalam kelompok ini, Anda mungkin pernah mendengar peringatan menakutkan tentang bagaimana kebiasaan ini perlahan-lahan bisa merusak kecantikan wajah. Menekan satu sisi wajah ke bantal malam demi malam sering dituding sebagai biang keladi munculnya kerutan, kulit kendur, hingga wajah yang tidak simetris. Apakah klaim ini benar-benar didukung oleh sains?

Baca Juga

Kenyataannya, penelitian di bidang ini masih cukup terbatas. Sebuah studi tahun 2013 yang diterbitkan oleh American Society for Dermatologic Surgery tidak menemukan hubungan signifikan antara posisi tidur dengan kerutan atau kekenduran wajah pada 100 wanita. Meski begitu, ulasan tahun 2016 oleh American Society for Aesthetic Plastic Surgery menunjukkan bahwa tekanan wajah yang berulang selama tidur menyamping atau tengkurap dapat berkontribusi pada munculnya "kerutan tidur" seiring berjalannya waktu.

photo
Ilustrasi kulit wajah. - (Antara)

 

Dokter spesialis kulit bersertifikat, dr Shamsa Kanwal, mengatakan meskipun ada benarnya, posisi tidur sebenarnya memainkan peran yang relatif kecil dalam tanda-tanda penuaan yang terlihat. “Mitosnya adalah tidur menyamping merupakan penyebab utama kulit kendur dan keriput. Pandangan yang lebih realistis adalah posisi ini dapat memberikan sedikit efek lokal, terutama garis-garis tidur, sementara faktor penentu besarnya tetap paparan sinar UV, hilangnya kolagen seiring usia, merokok, dan peradangan kronis,” ujarnya dikutip dari laman Huffington Post pada Sabtu (28/3/2026).

Garis tidur atau sleep lines ini menjadi lebih nyata seiring bertambahnya usia karena penurunan alami elastisitas kulit. Tubuh memproduksi lebih sedikit kolagen dan elastin, protein yang memberikan kekuatan struktural dan fleksibilitas pada kulit. Dokter spesialis kulit lainnya, dr Marie Jhin,  mengatakan kulit yang lebih muda mampu pulih dengan cepat.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement