REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketergantungan remaja terhadap gawai semakin meningkat. Selain menghabiskan waktu untuk scrolling media sosial, tidak sedikit remaja yang bermain game online hingga larut malam. Kebiasaan ini dinilai turut memengaruhi pertumbuhan remaja.
Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi, Prof Dr dr Aman Bhakti Pulungan, menjelaskan bahwa tidur memiliki pengaruh langsung terhadap pertumbuhan anak. Menurutnya, hormon pertumbuhan dan sejumlah hormon penting lainnya, terutama saat masa pubertas, diproduksi secara optimal ketika anak memasuki fase tidur nyenyak (deep sleep) dan fase rapid eye movement (REM).
"Kalau tidur itu direct terhadap pertumbuhan. Karena hormon pertumbuhan itu dan beberapa hormon tertentu itu, apalagi pada saat pubertas, itu akan terjadi pada saat deep sleep dan fase rapid eye movement. Tidur itu sangat berpengaruh," kata Prof Aman dalam diskusi virtual dipantau di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Karena itu, Prof Aman menegaskan bahwa waktu tidur anak tidak boleh dikurangi. Remaja usia 12 hingga 18 tahun memerlukan waktu tidur selama 8 hingga 9 jam. Selain itu, remaja juga tidak dianjurkan bergadang atau tidur larut.
Menurut Prof Aman, sebaiknya remaja mulai tidur maksimal pukul 21.00 agar siklus alami tubuh atau ritme sirkadian bekerja secara optimal. Pada waktu itulah tubuh melepaskan hormon pertumbuhan secara maksimal untuk mendukung perkembangan tulang dan otot.
"Deep sleep ítu tidak bisa didiskon. Ada pasien remaja bilang, katanya kalau weekend tidurnya jam 12 malam dan bangun jam 9 pagi. Itu tidak boleh. Karena hormon pertumbuhan ada waktu kerjanya, ada masanya," ujar Prof Aman.
Menurut dia, remaja yang tinggal di Indonesia memiliki keuntungan karena siklus terang dan gelap relatif teratur sepanjang tahun. Kondisi tersebut seharusnya dimanfaatkan agar remaja memiliki waktu tidur yang cukup.
la mencontohkan, di Jepang matahari dapat terbit sekitar pukul 04.00 sehingga ritme diurnal lebih mudah terganggu. Sementara di Finlandia, ada fase di mana matahari terbenam sekitar pukul 23.00 malam. Meski demikian, masyarakat di negara tersebut berupaya menciptakan suasana gelap di dalam rumah, misalnya dengan menutup tirai, agar anak-anak tetap dapat tidur sesuai waktunya.
"Di Indonesia kita harus bersyukur karena langit gelapnya itu teratur dan panjang. Kondisi ini harusnya dioptimalkan agar anak-anak Indonesia pertumbuhan fisiknya bagus, pada tinggi-tinggi," kata dia.